Monday, 9 December 2013

ML Dengan Boss

Selama satu minggu Ibu Mertuaku berada di Jakarta, hampir setiap hari setiap ada kesempatan aku dan Ibu Mertuaku selalu mengulangi persetubuhan kami. Apalagi setelah Indri istriku ditugaskan ke Medan selama tiga hari untuk mengerjakan proyek yang sedang di kerjakan kantor istriku, Aku dan Ibu mertuaku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang kami peroleh, kami berdua semakin lupa diri. Aku dan Ibu mertuaku tidur seranjang, layaknya suami istri, ketika hasrat birahi kami datang aku dan Ibu Mertuaku langsung menuntaskan hasrat kami berdua. Kusirami terus menerus rahim Ibu Mertuaku dengan spermaku, akibatnya fatal.
Setelah istriku kembali dari Medan Bapak mertuaku minta agar Ibu mertuaku segera pulang ke Gl, dengan berat hati akhirnya Ibu mertuakupun kembali ke desa Gl. Setelah Ibu mertuaku kembali kedesa GL hari hariku jadi sepi Aku begitu ketagihan dengan permainan sex Ibu Mertuaku aku rindu jeritan jeritan joroknya, saat orgasme sedang melandanya.
Pertengahan juni lalu Ibu mertuaku menelponku ke kantor, aku begitu gembira sekali Kami berdua sudah sama sama saling merindukan, untuk mengulangi persetubuhan kami, tapi yang paling membuatku kaget adalah saat Ibu mertuaku memberikan kabar, kalau beliau terlambat datang bulan dan setelah diperiksa ke dokter, Ibu mertuaku positip hamil. Aku kaget sekali, aku pikir, Ibu Mertuaku sudah tidak bisa hamil lagi.
Aku minta kepada Ibu mertuaku, agar benih yang ada dalam kandungannya dijadikan saja, namun Ibu mertuaku menolaknya, Ibu mertuaku bilang itu sama saja dengan bunuh diri, karena suaminya sudah lama tidak pernah lagi menggaulinya, tetapi masih bisa hamil. Baru aku tersadar, yah kalau Bapak mertuaku tahu istrinya hamil, pasti Bapak mertuaku marah besar apalagi jika Bapak mertuaku tahu kalau yang menghamili istrinya adalah menantunya sendiri.
Juga atas saran Dokter, menurut dokter di usianya yang sekarang ini, sangat riskan sekali bagi Ibu mertuaku untuk hamil atau memiliki anak lagi, jadi Ibu mertuaku memutuskan untuk mengambil tindakan.
“Bu, apa perlu aku datang ke desa Gl?”
Ibu mertuaku melarang, “Tidak usah sayang nanti malah bikin Bapak curiga, lagi pula ini hanya operasi kecil”.
Setelah aku yakin bahwa Ibu mertuaku tidak perlu ditemani, otak jorokku langsung terbayang tubuh telanjang Ibu mertuaku.
“Bu aku kangen sekali sama Ibu, aku kepengen banget nih Bu”
“Iya Mas, Ibu juga kangen sama Mas Pento. Tunggu ya sayang, setelah masalah ini selesai, akhir bulan Ibu datang. Mas Pento boleh entotin Ibu sepuasnya”.
Sebelum kuakhiri percakapan, aku bilang sama Ibu mertuaku agar jangan sampai hamil lagi, Ibu mertuaku hanya tersenyum dan berkata kalau dia kecolongan. Gila.. , hubungan gelap antara aku dengan Ibu mertuaku menghasilkan benih yang mendekam di rahim Ibu mertuaku, aku sangat bingung sekali.
Saat aku sedang asyik asyiknya melamun memikirkan apa yang terjadi antara aku dan Ibu mertuaku, aku dikagetkan oleh suara dering telepon dimejaku.
“Hallo, selamat pagi”.
“Pento kamu tolong ke ruang Ibu sebentar”.
Ternyata Bos besar yang memanggil, akupun beranjak dari tempat dudukku dan bergegas menuju rangan Ibu Mila. Ibu Mila, wanita setengah baya, yang sudah menjanda karena ditinggal mati suaminya akibat kecelakaan, saat latihan terjun payung di Sawangan. Aku taksir, usia Ibu Mila kurang lebih 45 tahun, Ibu Mila seorang wanita yang begitu penuh wibawa, walaupun sudah berusia 45 tahun namun Ibu Mila tetap terlihat cantik, hanya sayang Tubuh Ibu Mila agak gemuk.
“Selamat pagi Bu, ada apa Ibu memanggil saya”.
“Oh nggak.. , Ibu cuma mau Tanya mengenai pekerjaan kemarin, yang diberikan sama Bp. Anwar sudah selesai kamu kerjakan atau belum?”.
“Oh.. ya Bu.. sudah, sekarang saya sedang memeriksanya kembali sebelum saya serahkan, biar tidak ada kesalahan”. Jawabku.
“Oh.. ya.. sudah kalau begitu, Kamu kelihatan pucat kenapa? Kamu sakit?”. Tanya Ibu Mila.
“Oh nggak Bu Saya tidak apa-apa”.
“Kalau kamu kurang sehat, ijin saja istirahat dirumah, jangan dipaksakan nanti malah tambah parah penyakit mu”.
“Ah.. nggak apa-apa Bu saya sehat kok”. Jawabku.
Saat aku hendak meninggalkan ruangan Ibu Mila, aku sangat terkejut sekali, saat Ibu Mila berkata, “Makanya kalau selingkuh hati hati dong Pen Jangan terlalu berani. Sekarang akibatnya ya beginilah Ibu mertuamu hamil”.
Aku sangat terkejut sekali, bagai disambar petir rasanya mukaku panas sekali, aku sungguh-sungguh mendapatkan malu yang luar biasa.
“Dari mana Ibu tahu?” tanyaku dengan suara yang terbata bata.
“Maaf Pen Bukannya Ibu ingin tahu urusan orang lain, Tadi waktu Ibu menelfon kamu kamu kok online terus Ibu jadi penasaran, Ibu masuk saja ke line kamu. Sebenarnya, setelah Ibu tahu kamu sedang bicara apa, saat itu Ibu hendak menutup telepon rasanya kok lancang dengerin pembicaraan orang lain, tapi Ibu jadi tertarik begitu Ibu tahu bahwa kamu selingkuh dengan Ibu mertuamu sendiri”.
Aku marah sekali, tapi apa daya Ibu Mila adalah atasanku, selain itu Ibu Mila adalah saudara sepupu dari pemilik perusahaan tempat aku bekerja, bisa bisa malah aku dipecat. Aku hanya diam dan menundukan kepalaku, aku pasrah.
“Ya sudah, tenang saja rahasia kamu aman ditangan Ibu”
“Terima kasih Bu”, jawabku lirih sambil menundukkan mukaku
“Nanti sore setelah jam kerja kamu temenin Ibu ke rumah, ada yang hendak Ibu bicarakan dengan kamu, OK”.
“Tentang apa Bu?” tanyaku.
“Ibu mau mendengar semua cerita tentang hubunganmu dengan Ibu mertuamu dan jangan menolak” pintanya tegas.
Akupun keluar dari ruangan Ibu Mila dengan perasaan tidak karuan, aku marah atas perbuatan Ibu Mila yang dengan lancang mendengarkan pembicaraanku dengan Ibu mertuaku dan rasa malu karena hubungan gelapku dengan Ibu mertuaku diketahui oleh orang lain.
“Kenapa Pen? Kok mukamu kusut gitu habis dimarahin sama si gendut ya”, Tanya Wilman sohibku.
“Ah, nggak ada apa apa Wil Aku lagi capek aja”.
“Oh aku pikir si gendut itu marahin kamu”.
“Kamu itu Wil, gendat gendut, ntar kalau Ibu Mila denger mati kamu”.
Hari itu aku sudah tidak konsentrasi dalam pekerjaanku Aku hanya melamun dan memikirkan Ibu mertuaku, kasihan sekali beliau harus dikuret sendirian, terbayang dengan jelas sekali wajah Ibu mertuaku kekasihku, rasanya aku ingin terbang ke desa GL dan menemani Ibu mertuaku, tapi apa daya Ibu mertuaku melarangku. Apalagi nanti sore aku harus pergi dengan Ibu Mila, dan aku harus menceritakan kepadanya semua yang aku alami dengan Ibu mertuaku, uh.. rasanya mau meledak dada ini
Aku berharap agar jam tidak usah bergerak, namun detik demi detik terus berlalu dengan cepat, tanpa terasa sudah jam setengah lima. Ya aku hanya bisa pasrah, mau tidak mau aku harus mencerikan semua yang terjadi antara aku dengan Ibu mertuaku agar rahasiaku tetap aman.
“Kring.. “, kuangkat telepon di meja kerjaku.
“Gimana? Sudah siap”, Tanya Ibu Mila. “Ya Bu saya siap”, “Ya sudah kamu jalan duluan tunggu Ibu di ATM BNI pemuda”.
Ternyata Ibu Mila tidak ingin kepergiannya denganku diketahui karyawan lain. Dengan menumpang mobil kawanku Wilman, aku diantar sampai atm bni, dengan alasan aku mau mengambil uang, dan akan pergi ketempat familiku, akhirnya wilman pun tidak jadi menunggu dan mengantarkanku pulang seperti biasanya.
Kurang lebih lima belas menit aku menunggu Ibu Mila, tapi yang ditunggu-tunggu belum datang juga, saat kesabaranku hampir habis kulihat mobil Mercedes hitam milik Ibu Mila masuk ke halaman dan parkir. Ibu Mila pun turun dari mobil dan berjalan kearah ATM.
“Hi.. Pento ngapain kamu disini?”, sapa Ibu Mila.
Aku jadi bingung, namun Ibu Mila mengedipkan matanya, akupun mengerti maksud Ibu Mila, agar kami bersandiwara karena ada beberapa orang yang sedang antri mengambil uang.
“Oh nggak Bu, saya lagi nunggu temen tapi kok belum datang juga”, sahutku.
Ibu Milapun bergabung antri di depan ATM.
“Gimana, temenmu belum datang juga?” Saat Ibu Mila keluar dari ruang ATM.
“Belum Bu”.
“Ya sudah pulang bareng Ibu aja toh kita kan searah”.
Aku pun berjalan kearah mobil Ibu Mila, aku duduk di depan disamping supir pribadi Ibu Mila sementara Ibu Mila sendiri duduk dibangku belakang.
“Ayo, Pak Bari kita pulang” “Iya Nya.. “, sahut Pak bari “Untung aku ketemu kamu disini Pento Padahal tadi aku sudah cari kamu dikantor kata teman temanmu kamu udah pulang”.
Uh.. batinku Ibu Mila mulai bersandiwara lagi.
“Memangnya ada apa Ibu mencari saya?”.
“Mengenai proposal yang kamu bikin tadi siang baru sempat Ibu periksa sore tadi, ternyata ada beberapa kekurangan yang harus ditambahkan. Yah dari pada nunggu besok mendingan kamu selesaikan sebentar di rumah Ibu OK”.
Aku hanya diam saja, pikiranku benar-benar kacau saat itu, sampai sampai aku tidak tahu kalau aku sudah sampai dirumah Ibu Mila.
“Ayo masuk”, ajak Ibu mia.
Aku sungguh terkagum kagum melihat rumah bossku yang sanggat besar dan megah. Aku dan Ibu Mila pun masuk kerumahnya semakin kedalam aku semakin bertambah kagum melihat isi rumah Ibu Mila yang begitu antik dan mewah.
“Selamat sore Nya”,
“Sore Yem, Oh ya.. yem ini ada anak buah ku dikantor, mau mengerjakan tugas yang harus diselesaikan hari ini juga tolong kamu antar dia ke kamar Bayu, biar Bapak Pento bekerja disana”.
“Baik Nya”.
Akupun diajak menuju kamar Bayu oleh Iyem pembantu di rumah Ibu Mila.
“Silakan Den, ini kamarnya”.
Akupun memasuki kamar yang ditunjuk oleh Iyem. Sebuah kamar yang besar dan mewah sekali. Langsung aku duduk di sofa yang ada di dalam kamar.
“Kring.. , kring.. “, kuangkat telepon yang menempel di dinding.
“Hallo, Pento, itu kamar anakku, sekarang ini anakku sedang kuliah di US, kamu mandi dan pakai saja pakaian anakku, biar baju kerjamu tidak kusut”.
“Oh.. iya Bu terimakasih”.
Langsung aku menuju kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhku denga air hangat, setelah selesai akupun membuka lemari pakian yang sangat besar sekali dan memilih baju dan celana pendek yang pas denganku.
Sudah hampir jam tujuh malam tapi Ibu Mila belum muncul juga, yang ada malah Iyem yang datang mengantarkan makan malam untukku. Saat aku sedang asyik menikmati makan malamku, pintu kamar terbuka dan kulihat ternyata Ibu Mila yang masuk, aku benar benar terpana melihat pakaian yang dikenakan oleh Ibu Mila tipis sekali. Setelah mengunci pintu kamar Ibu Mila datang menghampiri dan ikut duduk di sofa. Sambil terus melahap makananku aku memandangi tubuh Ibu Mila, walaupun gendut tapi Ibu Mila tetap cantik.
Setelah beberapa saat aku menghabiskan makananku Ibu Mila berkata kepadaku, “Sekarang, kamu harus menceritakan semua peristiwa yang kamu alami dengan Ibu Mertuamu, Ibu mau dengar semuanya, dan lepas semua pakaian yang kamu kenakan”.
“Tapi Bu”, protesku.
“Pento, kamu mau istrimu tahu, bahwa suaminya ada affair dengan ibunya bahkan sekarang ini Ibu kandung istrimu sedang mengandung anakmu”.
Aku benar benar sudah tidak punya pilihan lagi, kulepas kaos yang kukenakan, kulepas juga celana pendek berikut cd ku, aku telanjang bulat sudah. Karena malu kututup kontolku dengan kedua tanganku.
“Sial!”, makiku dalam hati, aku benar benar dilecehkan oleh Ibu Mila saat itu.
“Lepas tanganmu Ibu mau lihat seberapa besar kontolmu”, bentak Ibu Mila.
“Mm.. , lumayan juga kontolmu”.
Malu sekali aku mendengar komentar Ibu Mila tentang ukuran kontolku, yang ukurannya hanya standar Indonesia.
“Nah, sekarang ceritakan semuanya”.
Dengan perasaan malu, akupun menceritakan semua kejadian yang aku alami bersama Ibu Mertuaku, mau tidak mau burungkupun bangun dan tegak berdiri, karena aku menceritakan secara detail apa yang aku alami. Kulihat Ibu Mila mendengarkan dan menikmati ceritaku, sesekali Ibu Mila menarik napas panjang. Tiba tiba Ibu Mila bangkit berdiri dan melepaskan seluruh pakaian yang dia kenakan, aku terdiam dan terpana menyaksikan tubuh gendut orang paling berpengaruh dikantorku, sekarang sudah telanjang bulat dihadapanku. Walaupun banyak lemak disana sini namun pancaran kemulusan tubuh Ibu Mila membuat jakunku turun naik.
“Kenapa diam, ayo lanjutkan ceritamu”, bentaknya lagi.
“Baik Bu”, akupun melanjutkan ceritaku kembali, namun aku sudah tidak konsentrasi lagi dengan ceritaku, apalagi saat Ibu Mila menghampiri dan membuka kakiku kemudian mengelus elus dan mengocok ngocok kontolku, aku sudah tidak fokus lagi pada ceritaku.
“Ahh.. “, jeritku tertahan saat mulut Ibu Mila mulai mengulum kontolku.
“Ahh.. Bu.. , nikmat sekali”.
Kuangkat kepala Ibu Mila, kamipun berciuman dengan liarnya, kupeluk tubuh gendut bossku.
“Bu.. kita pindah keranjang saja”, pintaku,
Sambil terus berpelukan dan berciuman kami berdua berjalan menuju ranjang. Kurebahkan tubuh Ibu Mila, ku lumat kembali bibirnya, kami berdua bergulingan diatas pembaringan, saling merangsang birahi kami.
“Ahh.. “, Jerit Ibu Mila saat mulutku mulai mencium dan menjilati teteknya.
“Uhh Pento.. enak.. sayang”.
Ketelusuri tubuh Ibu Mila dan jilatan lidahkupun menuju memek Ibu Mila yang licin tanpa sehelai rambutpun. Kuhisap memek Ibu Mila dan kujilati seluruh lendir yang keluar dari memeknya. Banjir sekali Mungkin karena Ibu Mila sudah sangat terangsang mendengar ceritaku.
“Ahh”, jerit Ibu Mila saat dua jariku masuk ke lubang surganya, dan tanganku yang satu lagi meremas-remas teteknya.
Aku berharap agar orang yang telah melecehkanku ini cepat mencapai orgasmenya, aku makin beringas lidahku terus menjilati memek Ibu Mila yang sedang dikocok kocok dua jari tanganku. Usahaku berhasil, Ibu Mila memohon agar aku segera memasukan kontolku le lubang memeknya, tapi aku tidak mengindahkan keinginannya, kupercepat kocokan jari tanganku dilubang memek Ibu Mila, tubuh Ibu Milapun makin menegang.
“Aaarrgghh.. Pento”, jerit Ibu Mila tubuhnya melenting, kakinya menjepit kepalaku saat badai orgasme melanda dirinya,
Aku puas sekali melihat kondisi Ibu Mila, seperti orang yang kehabisan napas, matanya terpejam, kubiarkan Ibu Mila menikmati sisa sisa orgasmenya. Kucumbu kembali Ibu Mila kujilati teteknya, kumasukan lagi dua jariku kedalam memek nya yang sudah sangat basah.
“Ampun.. Pento.. biarkan Ibu istirahat dulu”, pintanya.
Aku tidak memperdulikan permintaannya, kubalik tubuh telentangnya, tubuh Ibu Mila tengkurap kini.
“Jangan.. dulu Pen.. too.. Ibu lemas sekali”.
Aku angkat tubuh tengkurapnya, Ibu Mila pasrah dalam posisi nungging. Matanya masih terpejam. Kugesek gesekan kontolku kelubang memek Ibu Mila. Kutekan dengan keras dan.. Blesss masuk semua batang kontolku tertelan lubang nikmat memek Ibu Mila.
“Iiihh.. Pen.. to.. kamu.. jahat”.
Akupun mulai mengeluar masukan kontolku ke lubang memek Ibu Mila, orang yang paling di takuti dikantorku sekarang ini sedang bertekuk lutut di hadapanku, merintih rintih mendesah desah, bahkan memohon mohon padaku. Aku puas sekali, kupompa dengan cepat keluar masuknya kontoku di lubang memek Ibu Mila, bunyi plak.. plak.. akibat beradunya pantat Ibu Mila dengan tubuhku menambah nikmat persetubuhkanku.
“Uhh.. “, jeritku saat kontolku mulai berdenyut denyut.
Akupun sudah tidak sanggup lagi menahan bobolnya benteng pertahananku. Kupompa dengan cepat kontolku, Ibu Milapun makin belingsatan kepalanya bergerak kekiri dan kekanan.
“Ahh Ibu.. aku mau.. keluar.. “.
Dan cret.. cret, muncrat sudah spermaku masuk kedalam Memek dan rahim Ibu Mila, beberapa detik kemudian Ibu Mila pun menyusul mendapatkan orgasmenya, dengan satu teriakan yang keras sekali, Ibu Mila tidak peduli apakah Iyem pembantunya mendengar jeritannya diluar sana.
Ibu Mila rebah tengkurap, akupan rebah di belakangnya sambil terus memeluk tubuh gendut Ibu Mila. Nikmat sekali.. , Orgasme yang baru saja kami raih bersamaan, kulihat Ibu Mila sudah lelap tertidur, dari celah belahan memek Ibu Mila, air manyku masih mengalir, aku benar benar puas karena orang yang telah melecehkanku sudah kubuat KO. Kuciumi kembali tubuh Ibu Mila, kontolkupun tegak kembali, ku balik tubuh Ibu Mila agar telentang, kuangkat dan kukangkangi kakinya. Kugesek-gesekan kontolku di lubang memek Ibu Mila.
“Uhh Pento.. Ibu lelah sekali sayang”, Lirih sekali suara Ibu Mila.
Aku sudah tidak peduli, langsung kutancapkan kontolku ke lubang nikmat Ibu Mila, Bless.. Licin sekali, kupompa keluar masuk kontolku, tubuh Ibu Mila terguncang guncang akibat kerasnya sodokan keluar masuk kontolku, rasanya saat itu aku seperti bersetubuh dengan mayat, tanpa perlawanan Ibu Mila hanya memejamkan matanya. Kukocok dengan cepat dan keras keluar masuknya kontolku di lubang memek Ibu Mila.. , dan langsung ku cabut kontolku dan kumuncratkan air maniku diatas perut Ibu Mila.
Karena lelah akupun tertidur sisamping tubuh telanjang Ibu Mila, sambil kupeluk tubuhnya, saat aku terbangun kulihat jarum jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam, buru buru aku bergegas membersihkan tubuhku dan mengenakan pakaian kerjaku.
“Bu.. Bu.. Mila bangun Bu.. “.
Akhirnya dengan malas Ibu Mila membuka matanya.
“Sudah malam Bu saya mau pulang”.
“Pento kamu liar sekali, rasanya tubuh Ibu seperti tidak bertulang lagi”.
Ibu Milapun bangkit mengenakan pakaiannya, kami berdua berjalan keluar kamar.
“Tunggu sebentar ya Pento, kemudian Ibu Mila masuk kekamarnya, beberapa saat kemudian Ibu Mila keluar dari kamarnya dengan senyumnya yang menawan.
“Ini untuk kamu”.
“Apa ini Bu?”, Tanyaku, saat Ibu Mila menyodorkan sebuah amplop kepadaku.
Aku menolak pemberian Ibu Mila, namun Ibu Mila terus memaksaku untuk menerimanya. Terrpaksa kukantongi amplop yang diberikan Ibu Mila lalu kembali kami berciuman dengan mesranya.
Dalam perjalanan pulang aku masih tidak menyangka bahwa aku baru saja bersetubuh dengan Ibu Mila. Entah nasib baik ataukah nasib buruk tapi aku benar benar menikmatinya.

Kado dari Aldi

Tanpa dipuaskan sama sekali aku pulang ke rumah. Tom malam itu tidak pulang. Sepertinya dia dapat perek yang bisa dientot olehnya. Lucky guy!
Aku tidak ada pilihan lain selain masturbasi lagi sambil membayangkan dientot sama Aldi. Aku juga tidak bisa melupakan tatapan Nadya yang horny saat ia membersihkan kontol suaminya.
Paginya sebelum aku berangkat kerja, Tom pun pulang.
“Baby i missed u so much!” kataku sambil merangkulnya! Ia masih kesal namun aku paksa dia untuk mengentotku saat itu, disitu juga. Akhirnya aku pun keluar! Finally. Tapi sepertinya Tom tidak keluar banyak. Aku tidak tau perek bule siapa yang sekarang jalan2 dengan memek becek karena suamiku.
Kegiatan pagi hariku di kantor benar2 membosankan. Aku diajak pergi lunch dengan Pete dan Mark (orang departemen Media) ke JW Marriot. Sepanjang lunch Pete meremes2 pahaku terus menerus. Aku biarkan, namun tidak aku tanggapi juga.
Kira2 30 menit setelah lunch, aku dapat telfon dari resepsionis. Katanya ada orang mau ketemu dengan saya. Karena emang aku menunggu tamu orang dari production house, saya pun ke lobby.
Betapa kagetnya diriku melihat Nadya duduk menunggku. Ia dandan benar2 seperti supermodel. Sendal berhak tinggi, rok super-mini, tank-top yang aku kira dipakainya tanpa bh dan dandanan yang cukup rapih. Namun kecantikannya benar luar biasa, sehingga ia tidak terlihat murahan sedikit pun. Aku juga baru menyadari betapa besar dan kencangnya kedua toketnya. Saat melihatku ia berdiri. Aku bingung harus berkata apa, untung aku dapat akal untuk membawa dia ke ruang meeting yang kosong – daripada jadi awkward dan orang2 mulai gossip aneh2 lagi!
Aku tutup pintunya. Aku berbalik dan ternyata Nadya sudah duduk diatas meja. Sebelum aku sempat be tanya apa2, ia berkata: “Ada kado dari Aldi. Aku disuruh mengantarkannya ke kamu…” Aku baru sekali ini mendengar suaranya. Lembut, lemah, hampir seperti ABG.
Aku tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya. Tetapi tiba2 yang mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Mengangkang selebar-lebarnya! Astaga! I can’t believe it! Nadya tidak memakai panties! Dari jarak 1 meter aku bisa mencium bau khas memek yang basah tercampur dengan bau peju! Benar saja… Ternyata memeknya Nadya sepertinya abis dientot dan dijadikan penampungan sperma!
Sambil membuka lubang vaginanya dengan jarinya ia menatapku dengan sayu: “Kamu harus habisin katanya Aldi, kalau besok2 mau datang ke rumah lagi!”
Aku tak tau lagi harus bagaimana? Aku merasa kotor sekali melakukannya namun aku juga terangsang tiada taranya! Aku langsung menyambar memeknya Nadya! Mulutku kutempelkan di bibir memeknya sambil aku sedot2 isi sperma yang ada. Hidungku bergesekan dengan klitorisnya! Iya, aku memang pelacur murahan yang gunanya hanya untuk menelan sperma!
“Hmmmmgh….hmmmgh…” Nadya mengerang kecil… Tangannya menahan kepalaku agar menghisap lebih kuat lagi. Otot2 memeknya berkontraksi sehingga menekan keluar sperma di memeknya… “Ohhhh… Nadya… I love your pussy! Basah sekali sayang! Basah sekali!” Pahanya yang halus dan langsing menjepit kepalaku. Aku menjilat memeknya dari bawah ke atas, menjilat2 dari dekat lubang anusnya sampai ke klitorisnya… Nadya mengerang cukup keras.
”Oh my god…” kataku diantara jilatan, ”..banyak sekali spermanya! I can’t believe this!”
Memang sepertinya sperma yang tertampung di dalam memek Nadya jauh lebih banyak daripada waktu terakhir saat aku ‘membersihkannya’.
Ia membisikkan ke telingaku terengah2: “Kamu aneh ya, kok spermanya banyak begini?”
Aku hanya menganggukkan kepala sambil terus menyedot cairan asin peju dari lubang kenikmatannya yang tiada habisnya.
“… Karena… Ini… Sperma…kumpulan… dari 4 cowok yang berbeda… yang baru saja mengentotku sebelum aku kesini…” Aku seperti mau pingsan! Pelacur paling rendahan pun mungkin tidak akan melakukan ini! 4 orang! Tanpa menyentuh memekku pun aku orgasme! Bersamaan dengan Nadya yang membanjiri mulutku dengan asamnya cairan kewanitaanya!
Dengan muka belepotan sperma aku terhempas di salah satu kursi ruang meeting. Nadya mencium bibirku dan lidahnya menjulur2 ke dalam mulutku menyedot2 sisa2 sperma yang ada dimulutku. Ia juga menjilat2 lelehan sperma yang mengalir ke daguku. Sepertinya lidahnya udah jago sekali dalam jilat-menjilat. Ia mencium keningku dengan penuh kasih sayang dan meninggalkanku di ruangan meeting itu tanpa berkata apa2. Sambil membersihkan mukaku aku bertanya2 pada diriku mengapa aku bisa jatuh serendah ini.

Lubang pantat Nadya

Seharian aku nggak bisa konsentrasi di kantor. Sepertinya pada saat ini separuh kantorku sudah diceritakan sama Emir dan Michael, kalau aku seorang ‘bispak’. Tapi aku tidak memikirkan hal itu. Yang ada di benakku hanyalah ‘date’-ku sama Aldi yang ia bikin sepihak. Aku dari pagi udah siap2 dengan lingerie yg sexy di bawah baju kantorku dan terasa memekku semakin sore semakin basah. Akhirnya kerjaanku pun selesai dan aku meluncur ke alamatnya Aldi. Apartement-nya cukup megah, namun terlihat bahwa masih baru dan masih kosong penghuninya. Aku pun naik lift ke lantai 22. Di dalam lift aku memasukkan tanganku ke dalam rok mini-ku. Gila! Udah banjir pasti udah keliatan noda basah cairan memek dari luar panties-ku!
Pelan2 ku ketok pintu apartment. Sejenak tidak ada yang menjawab dan akupun berniat untuk kabur saja. Ternyata terdengar suara dari dalam: “Anissa! Silahkan masuk! Dan kunci pintunya!”
Sialan. There’s no escape now! Aku beranikan diriku dan membuka pintu. Di dalam semuanya gelap. Kamar2 pun masih cukup kosong. Sepertinya si Aldi baru pindahan kesini! Aku mengikuti lorong menuju kamar tidur. Disna kulihat seorang wanita berbadan tinggi dengan rambut coklat panjang terurai telungkup di atas tempat tidur yang besar. Ia telanjang bulat, tanpa sehelai benang pun. Dan sepertinya ia sedang tidur atau sedang tidak sadar. Di belakangnya, bersender di tembok, Aldi duduk dengan santai. Ia sepertinya sedang high dan terlihat ia sedang menyiapkan strip cocaine di atas meja kaca disamping tempat tidur.
“Ah, akhirnya kamu datang!” sapanya. “Perkenalkan, ini istriku Nadya. Sayang dia udah gak sadar. Kamu sih telat datangnya! Cantik nggak dia?” Aku hanya mengangguk. Ia menghirup strip cocaine-nya dengan hidungnya. Ia menikmati rasanya sejenak. “Kamu mau juga?” ia menawarkan strip berikutnya untukku. Sudah lama sekali aku tidak ‘neken’ cocaine. Abis mahal juga sih! Aku mengangguk dan mendekati meja. Aku duduk di lantai dan menghirup habis strip buatku. Rasanya langsung naik ke kepala. Enak sekali. Aku terasa seperti melayang. Aku tersenyum nakal ke arah Aldi sambil menjilat bibirku. Aldi menarik badanku ke atas kasur dan mencium bibirku… Ia menjulurkan lidahnya yang hangat kedalam mulutku. Aku hanya melenguh.
“Mau lagi?” tanyanya sambil meremas2 buah dadaku. Aku mengangguk. Ia sisihkan lagi satu baris buatku dia atas meja kaca. Tapi, waktu aku mau bergerak untuk menghirup bubuk tersebut kepalaku didorongnya dengan kasar! Aku bingung.
“Sebentar dulu! Kamu kok nggak mikirin tuan rumah sih. Kamu nggak kasihan tuh sama si Nadya?” ia menunjuk ke arah bagian pantat Nadya. Aku baru melihat bahwa di sekitar lubang pantatnya menggenang sperma banyak sekali. “Sana! Kamu bersihin dulu. Baru kamu boleh neken lagi!”
Antara rasa jijik dan pengen dapat bubuk setan itu sekali lagi aku benar2 bingung. Dengan iri aku melihat Aldi menghirup cocaine yang tadinya untukku.
”Ayo, say, jangan malu2!” katanya sambil tertawa mengejek.
Namun sepertinya aku udah nggak bisa mikir panjang. Aku naik ke atas tempat tidur dan pelan2 membuka pahanya Nadya. Banyak sekali sperma yang keluar dari lubang pantatnya. Aku melihat sekali lagi ke Aldi. Ia hanya tersenyum. Aku menundukkan kepalaku sambil membayangkan bagaimana Aldi tadi mengentot pantat istrinya sampai ia muncrat di dalam duburnya yang sempit. Bau khas yang tajam menusuk hidungku. Aku mulai menjulurkan lidahku dan dengan sedikit ragu2 mulai menjilat sperma yang ada di sekitar lubang pantat wanita tersebut. Gila! Aku sudah benar2 gila! Nggak tahu kenapa sepertinya aku sangat terangsang melakukan ini.
Tidak lama kemudian aku mulai menjilat tanpa ragu2. Nadya benar2 cewek yang cantik. Pantatnya indah sekali. Penuh dan sekel. Aku benar2 jadi buas menelan semua spermanya Aldi yang kental itu. Aldi hanya memandangku dengan dingin: “Ayo, say, di dalam pantatnya masih banyak kok!” Aku merasa kotor sekali… Menjilati sperma laki2 yang aku hampir tidak kenal dari lubang pantat istrinya…. Entah kenapa memekku berdenyut2 pengen dientot. Aku semakin gila menjilatinya. Aku tusukkan lidahku ke dalam lubang pantatnya Nadya yang licin. Benar saja! Di dalam lubangnya masih ada banyak lagi spermanya Aldi! Aku membuka lubangnya dengan jari2ku dan keluar meleleh peju yang banyak yang langsung kutelan. Aku dengar Nadya melenguh dalam tidurnya dan mengencangkan otot anusnya.
Lidahku terasa terjepit dan aku tusukkan lebh dalam lagi, hingga wajahku menempel ke buah pantatnya yang berlendir. Aku memainkan memekku dari luar baju, aku tidak bisa menghentikan permainan ini. Aku menempelkan bibirku seperti french-kissing lubang pantatnya Nadya. Spermanya Aldi mengalir tanpa hentinya kedalam mulutku!
”Please give me some coke!” rengekku sambil mendongakkan wajahku. Aku baru sadar kalau Aldi sedang memrekam semuanya dengan handycam yang dia sembunyikan sebelumnya. Aku sudah tidak perduli.
”You can do better, babe! Ayo terusin!” paksanya sambil mengeluarkan kontolnya yang udah tegang. Aku menjulurkan lidahku dan menusukkannya ke dalam pantatnya Nadya sambil tetap melihat nakal ke kamera. Aku memutar2 lidahku di sekitar otot anusnya.
”Please…” rengekku.
Aldi hanya tersenyum. Sambil terus merekam adegan tadi, ia membuka sekantong cocaine dan menaburkannya ke atas batang kontolnya yang ia basahkan dengan ludahnya. Aku langsung melahap kontolnya dengan mulutku. Rasanya nikmat sekali! Aku menyepongnya dengan keras. Aku maju-mundurkan kepalaku sampai terasa kontolnya di tenggorokanku.
”Mpppppppphhhhhh….” aku hanya melenguh… benar2 high….
Aku mengokoknya sekuat tenaga dan tidak lama kemudian spermanya muncrat kedalam tenggorokanku. Aku tersedak, namun Aldi menahan kepalaku. Aku terbatuk2, hampir kehabisan udara.
Aldi hanya memandangku dengan dingin.
”Bajingan kamu!” umpatku sambil terbatuk2. Aldi hanya tersenyum.
”Ya udah pergi sana!”
Aku bingung. Mungkin karena aku masih high banget, tapi mungkin juga karena aku tidak pernah diperlakukan sekasar ini.
”Udah keluar sana! Pulang ke suamimu!”
”Bajingan!” umpatku sambil menangis. Dengan muka yang masih basah oleh spermanya aku berlari keluar apartemennya Aldi. Belum pernah aku diperlakukan serendah itu.

Clubbing!

Dua weekend yang lalu aku diajak oleh Tom, suamiku, pergi clubbing bersama teman2 bule-nya. Kita mulai dari jam 9 di Dragonfly, minum2 wne dengan sopan, terus pindah ke Vertigo setelah jam 11. Aku senang juga pindah ke sana, apalagi setelah tahu bahwa temanku Citra, bakal ada disana juga. Dimana ada si Citra, disitu pula ada ecstasy! Aku bukan junkie tulen, tapi kadang2 aku suka juga nelen pil gila tsb.
Sama juga seperti friday night itu! I really wanted to go crazy, dan ada E, udah pasti gila!
Kita berangkat bersama tiga orang temennya Tom: Shane, Robert, atau Rob dan Aldi, orang Indo. Shane dan Robert berbadan besar selyaknya bule dan masih single. Well, shane sebenarnya punya girlfriend, tapi ia tinggal di Bangkok (paling juga local prostitute disana lah, pikirku selalu). Sedangkan Aldi seperti cowok indonesia rata2. Udah married. Mukanya cukup keren namun badannya tegap tapi biasa aja.
Sampai di Vertigo, aku langsung meninggalkan cowok2 itu untuk mencari si Citra. Ternyata dia udah asiknya goyang2 sendiri dipojokan bersama laki2 yang tidak kukenal. Aku diberinya sebutir E olehnya yg langsung kutelan diam2, dan aku langsung pamit untuk kembali ke Tom dkk. Belum terasa apa2 aku terus dancing2 sensual di depan cowok2 bule tadi. Aku tahu mereka memperhatikan badanku yg terbalut tube-dress putih yg menyala karena UV-light di Vertigo. Terutama Aldi sepertinya cukup horny memperhatikan liuk-liukan tubuhku. Ia terus menerus memandangiku dengan tatapan yang tajam. Walaupun aku tidak tertarik secara fisik dengannya, aku sengaja mau teasing dia dengan berciuman dengan Tom yg bernafsu sambil menatap matanya dalam2. Ia hanya menatapku dengan dingin.
Tak lama kemudian inex di badanku mulai ‘on’! Aku sudah tidak peduli apa2 dan naik ke meja kita. Aku goyang tanpa malu. Shane juga naik ke atas meja dan kita bikin pertunjukan hebat selama (aku kira2) 1 jam lebih.
Aku keringatan tak karuan dan tubuhku benar2 cape. Efek E juga sudah mulai buyar. Aku terduduk di sofa dan memejamkan mata sebentar. Karena efek obat gila-ku aku dapt melihat pola2 yg aneh di kegelapan mataku. Saat aku dengan lemas membuka mataku kembali, aku melihat di kejauhan Shane sudah hook-up dengan cewek di bar, Robert entah dimana. Dan Tom juga sedang tertawa2 dengan cewek yang baru ditemui-nya. Aldi ada di sebelahku, duduk di sofa corner yg cukup redup. Aku menghadap ke arahnya dan bengong melihat jendolan kontolnya di jeans-nya. Ia mengusap pipiku.
Aku tidak bisa berhenti melihat ke selangkangan Aldi. Sepertinya kontolnya udah keras sekali. Tanpa sepatah katapun ia menarik badanku ke dekatnya. Dibuka kakiku dengan kasarnya. Aku terkejut sekali. Jari2nya yang kasar menyusup ke balik dress-ku. Terus, terus naik menyusup dari samping panties-ku ke liang memekku. Dengan kasar jempolnya dimasukkan ke dalam memekku dan telunjuknya mengorek2 lubang pantatku. Ia tersenyum dingin.
Aku melirik ke arah Tom. Ia sedang tidak melihat ke arahku.
“Please stop, nanti ada yg lihat!” pintaku. Aldi mencabut jari dan jempolnya dan memasukkan keduanya ke dalam mulutku. Entah kenapa aku mengulum jari2nya. Ia tertawa merendahkan. Seakan2 aku seorang perek yg senang kalau dibayar hanya Rp.5000,-.
Tidak banyak yang kuingat dari malam itu. Paginya aku terbangun disebelah Tom, yg sepertinya mengentotku waktuku sedang tidur lelap. Aku langsung bangun dan mandi. Kepalaku masih terasa berat sekali waktu ada bunyi sms di hp-ku.
Aku baca, dan cukup kaget juga: “Datang ke apartemenku besok malam!,” tertulis alamat di bilangan kuningan. “Jangan lupa pakai baju yang sexy. -Aldi-”

office

Dua bulan yang lalu aku memulai affair dengan bos-ku di kantor. Sebenarnya Peter atau Pete bukan bos-ku langsung melainkan bos departemen client-service di advertising agency dimana aku bekerja. Awalnya aku kesel banget sama kelakuannya yang sok merintah-merintah siapa saja kalau dia lagi kesel. Tetapi suatu malam, waktu kita abis merayakan masuknya new business ke agency kami, kita satu team pergi ke Wwwok! di Kemang buat sedikit minum2. Mungkin karena bos-ku stress banget setelah dua atau tiga minggu kerja non-stop, dia sedikit keterlaluan maboknya. Anak2 kantor seperti biasa cuma ketawa2 saja liat tingkahnya yang tidak bisa berhenti ngajak orang ngobrol kalau sudah mabok. Tapi tidak ada yang menyadari bahwa dia selalu mencoba untuk merayuku. Dari mulai matanya yang tidak bisa lepas dari cleavage-ku saat berbicara denganku, sampai dengan tangannya yang terkadang mengelus buah pantatku dari luar rok ketatku. Waktu ia pergi ke toilet pun aku bisa merasakan ereksinya bergesek dengan pahaku. Jujur aku jadi horny juga, dan terpikir olehku untuk ke kamar kecil untuk membuka g-string-ku yang sudah lepek banget.
Setelah anak2 yang lain mulai bubar, aku menawarkan untuk mengantar Pete pulang, mengingat keadaannya yang sedemikian parahnya. Dia setuju, dan kami pun menuju pelataran parkir. Waktu itu sudah hampir pagi, jadi tinggal ada mas2 penjaga parkiran aja yang ada di dekat mobil-ku. Pete tidak berhenti juga nyerocos sambil mabok, padahal jalan saja sudah susah dan harus bertumpu di bahuku. Kadang2 ia jahilnya datang dan meremas toketku dari luar tank-top yang aku pakai waktu itu. Tukang parkir yang menunggu dekat mobilku tertegun melihat nipple-ku keluar dari bungkusnya karena tertarik sama tangan si pemabok. Aku hanya tersenyum nakal saja. Aku paling suka kalau bikin cowok tersipu2 dengan badanku!
Aku menyalakan mobil dan langsung cabut. Tukang parkir tidak kubayar – enak aja, kan udah liat toket gratis! Baru sampai Jalan Prapanca, bos-ku melepas seatbelt-nya. Aku pertama bingung. Dia ternyata membenamkan mukanya di selangkangan aku, sambil menarik rokku ke atas! Aku hampir menabrakkan mobilku ke trotoar. I was horny as hell!
Sambil terus ngoceh, si bos menjilat pahaku… makin lama makin ke atas…
”Pete, please stop it!” kataku sambil memijit-mijit memekku yang basah dengan merapatkan pahaku. Tetapi dia tidak memperdulikanku! Terus, naik, naik, naik, sampai dekat sekali dengan memekku yang basah…
”I can smell your wet cunt, Anissa!”
Ia meregangkan pahaku dan menarik g-string-ku sampai putus di pinggulku. Aku meregangkan pahaku, terasa mukanya dengan bulu-bulu jenggot pedek yang kasar dibenamkan di antara pahaku. Lidahnya menjulur-julur kedalam memekku yang benar2 sudah banjir! Tapi, karena aku harus menyetir mobilku, aku sulit sekali terus mengangkangkan pahaku seperti yang ku mau, sehingga, permainannya terputus2. Aku kesel banget!
Untung kami tidak lama kemudian sampai di rumahnya. Mobil aku parkir di jalanan di depan rumahnya. Saat aku hendak membuka pintuku, ia berkata: ”Babe, sorry, but you can’t come in. My wife’s at home and it would be… you know….” Sialan! Umpatku dalam hati. Udah dibikin horny gini, sekarang aku gak boleh masuk ke rumahnya! Aku sudah benar2 butuh dientot banget. Aku tidak akan bisa nunggu sampai rumah untuk dientot sama suamiku. Akhirnya aku nyerah deh!
Aku menghadap ke jendela samping sebelah kanan, dan menunggingkan pantatku ke arah si Pete. Dia sedikit bingung sepertinya. Tetapi aku angkat rokku keatas dan terpampanglah vagina dan lubang pantaku yang sudah basah dari cairan memekku yang banjir.
”Just fuck me Pete. Stick your dick up my pussy! Please!” desahku. Aku tetap duduk menyamping sambil menunggingkan pantatku ke arahnya. Aku sudah masa boso kalau ada orang yang mungkin bisa memergoki kita. Aku hanya ingin memekku diisi kontol bos-ku yang keras itu. Sambil menunggu kontolnya menyusup ke memekku, aku memainkan klitorisku dengan jari2ku, sambil membuka lebar lubang kenikmatanku.
Aku mendengar resletingnya dibuka dan tak lama kemudian, kontol raksasanya Pete masuk dengan satu sentakan ke dalam memekku yang super-licin.
”Ooohhhh god!” gumamku, namun bos-ku hanya mengeram sambil mengeluar masukkan kontolnya dengan kasar sekali. Terasa panjangnya… setiap urat-urat yang ada di kontolnya. Seakan membuat memekku semakin lebar. Tidak lama kemudian kontolnya menegang keras dan berdenyut-denyut. ”Keluarin di dalam, Pete… fill me up with your cum, baby!” aku meracau tidak jelas. Terasa semburan demi semburan memenuhi rahimku, mengalir keluar dan meleleh ke pahaku. Bos-ku langsung mencabut kontolnya. Terdengar bunyi ’plop’. Si bajingan itu langsung menutup resleting celananya dan keluar dari mobilku, meninggalkanku dengan memek penuh dengan spermanya dalam posisi menungging seperti pelacur. Aku melihat bagaimana ia sempoyongan masuk ke dalam rumahnya.
Aku mengumpat. Tapi apa boleh buat? Tidak lama kemudian, aku menurunkan rok-ku dan memacu mobilku ke arah rumahku sendiri. Sepanjang jalan sperma bos-ku terus mengalir keluar dari lubang vaginaku. Di setiap lampu merah aku masukkan jariku ke dalam liang memekku dan kubersihkan sisa2 spermanya dari jariku dengan menghisap2 jariku sampai bersih. Aku membayangkan sedang menyepong kontolnya si Pete yang gede itu.
Tom, suamiku membukakan pintu rumah. Rupanya dia sudah tertidur.
”Wow! What happened to you? You’re a mess! Are you okay, baby?” sepertinya ia sedikit khawatir melihat penampilanku.
”Nggak apa2 kok, baby! Aku cuma abis dipake sama bos-ku,” jawabku nakal sambil berjalan ke kamar tidur kami sambil mengayunkan pinggul, ”I’ll tell you all about it, while you fuck my ass ’til I cum… You wanna do that?”

Nia, pembantuku yang cantik PART I









Nia, pembantuku yang cantik PART I

Post by RON88 on Fri Jun 22, 2012 10:26 pm
Hari ini hari dimana aku terpaksa kembali memberhentikan pembantu rumahku untuk yang ke sekian kalinya. Habis mau bagaimana lagi? Walau sudah gonta-ganti pembantu dari yayasan tapi tetap saja tidak ada yg bisa bekerja sesuai dengan apa yang aku harapkan. Dari mulai bekerja seenaknya udelnya sendiri, tidak telaten, bahkan sampai ada yg kerjanya cuman ngegosip saja sama tetangga. Hadoooh... Memang benar kata temanku, nyari pembantu itu ga jauh beda dengan nyari jodoh ternyata...

Walaupun sudah empet rasanya untuk nyari pembantu lagi, tapi apa boleh buat, aku dan istriku sama-sama pekerja kantoran jadi untuk urusan pekerjaan rumah tangga sudah tentu kami berdua tidak punya cukup waktu untuk melakukannya apalagi urusan menjaga anak? Beruntung selang beberapa hari sejak pembantuku yg terakhir itu ku berhentikan mertuaku mengabari bahwa pembantu yg sedang bekerja dirumahnya punya saudara yang sedang butuh pekerjaan. Singkat kata aku-pun langsung menerima pembantu yg ditawari mertuaku itu untuk bekerja di rumahku.

Namanya Nia, masih lugu, umurnya-pun masih 16 tahun dan dia baru 1 tahun pengalaman menjadi pembantu rumah tangga. Waktu awal-awal bekerja dirumahku aku tidak terlalu memperhatikan dia karena kupikir ah mungkin sama saja dengan pembantu2 sebelumnya. Namun setelah satu bulan bekerja mau tidak mau terlihat juga sifat-sifat aslinya...

Diluar dugaan, Nia ternyata anak yg sungguh rajin bekerja. Dia penuh dengan inisiatif dan juga telaten menjaga si kecil yg baru berumur 2 tahun itu. Aku sempat tersenyum gembira karena merasa dia adalah pembantu yg selama ini aku harapkan. Aku pun merasa sayang bila suatu saat nanti kehilangan dia dari rumahku. Karena ya tadi itu, sangat susah mencari pembantu yg sesuai harapan di jaman sekarang ini.

Niatku untuk membuat Nia betah bekerja dirumah aku sampaikan juga kepada istriku dan diapun langsung setuju karena memang, istriku juga merasa Nia adalah pembantu yg tepat bagi keluarga kami.

Untuk membuatnya betah bekerja, semua kebutuhan bulananya kami penuhi. Dari uang jajan harian, hal2 kecil seperti sabun mandi dan odol sampai parfum dan handbody yg seharusnya hanya untuk kecantikan-pun tidak segan2 kami belikan untuknya. Benar saja, Nia begitu betah bekerja di rumahku dan tak terasa sudah 1 tahun dia bekerja tanpa ada tanda2 kalau dia jenuh atau tidak senang bekerja untuk keluargaku.

Karena semua kebutuhan termasuk alat2 kecantikanpun kami berikan kepada dia, Nia menjadi rajin merawat diri. Nah, suatu waktu ketika aku, anakku dan dia sedang pergi jalan-jalan ke sebuah mall, terbersit niatku untuk menyenangi dia dengan mengajaknya ke salon untuk memotong rambutnya yg sdh kelewat panjang dan kurang terurus itu. Awalnya dia menolak karena merasa malu dan tidak enak, tapi karena aku paksakan akhirnya dia mau juga.

Satu jam menunggu dia di Salon aku habiskan dengan anakku di sebuah playland yang ada di mall itu. Begitu selesai akupun kembali ke salon untuk menjemput Nia. Tapi Ya ampun..... Aku begitu kaget melihat dia dan rambutnya yang baru di potong itu berdiri di depanku... Dia begitu cantik! Ya, cantik! Bukan hanya manis, tapi benar2 cantik sekali sampai aku terdiam menganga beberapa detik seperti layaknya orang yg baru saja melihat keajaiban.

Perjalanan pulang dari mall, aku tidak begitu konsen menyetir. Dari td aku selalu mencuri-curi pandang untuk memperhatikan Nia dengan penampilan barunya itu. Potongan rambutnya pendek sebahu, rapih dan berkilau. Aku bisa dengan jelas melihat wajahnya yang putih dan mulus itu... Eh tunggu dulu? Putih dan mulus?? Apa aku tidak salah lihat? Seingatku dia dulu biasa saja, kusam malahan? Apa karena produk2 kecantikan itu memberikan efek yg sedemikian rupa? Atau rambutnya yg panjang yg selama ini secara tidak langsung menyembunyikan kecantikannya? Atau mungkin aku saja yang selama ini tdk memperhatikan dia dengan baik?? Ahhhhhh... Bodo amat lah. Yang jelas ada wanita muda dan cantik sedang duduk disampingku.. Tidak, bukan hanya itu. Tapi dia akan selalu ada serumah denganku kan?.

Lampu merah masih menyala. Ada angka 90 tertulis di panel LED yang terletak diatasnya menadakan cukup waktu bagiku untuk lebih detil lagi melirik si cantik Nia yg sedang kerepotan mengatur duduk si kecil di pangkuannya. Ku perhatikan wajahnya sekali lagi dengan rasa yang masih tidak percaya. Memang ternyata aku tidak salah lihat tadi. Dia benar2 cantik sekali...

Lalu perlahan-lahan pandanganku mulai penasaran melirik turun ke arah lehernya yg juga jadi terlihat jelas karena potongan rambut barunya itu. Oh my god, Lehernya ternyata jenjang... Mungkin karena dia rajin bekerja jadi otomatis tubuhnya-pun terbentuk proporsional dengan sendirinya. Tidak heran memang.

Puas melihat lehernya yg jenjang itu, bola mataku kembali penasaran. Kali ini mulai turun lagi dari lehernya yg indah itu menuju bagian dadanya yg ternyata juga membuat aku terpana... Oh shit! Dadanya begitu padat dan berisi. Cukup besar untuk umurnya yang baru 16 tahun itu. Malah lebih besar dari punya istriku sepertinya? Ada apa ini? Apa aku sedang bermimpi? Kenapa baru sekarang aku ngeh dengan fisik pembantuku ini??

Malam itu jadi malam yang paling menyiksa buatku. Walau sudah mencoba mengalihkan pikiran ke hal-hal yang lain tapi tetap saja, yang kupikirkan hanyalah wajah cantik Nia dari td. Lama2 lamunankupun mulai menjurus ke arah yang tidak2. Aku mulai membayangkan kalau saat ini yg sedang tidur disampingku ini adalah Nia dan bukan istriku.
Aku mulai berangan-angan untuk bisa sekedar merasakan hangat tubuhnya dipelukanku..

Hari demi hari berlalu aku semakin penasaran dibuatnya. Nia begitu lugu. Oh ya, dia ternyata sudah 17 tahun loh. Aku lupa kalau sampai saat ini dia sudah bekerja setahun lebih di keluargaku. Dia sudah dewasa tentunya kan? Artinya semakin matang penampilannya dimataku.

Aku mulai mencari cara dan kesempatan agar bisa bersentuhan dengannya. Saat dia lagi di dapur misalnya. Memang dapurku itu kebetulan cukup sempit untuk lebih dari 1 orang berada didalamnya. Tapi dengan dalih mau mengambil gelas dan piring aku usahakan bisa masuk untuk sekedar bisa memeluk Nia dari belakang walau terkesan hanya demikian.

Tidak puas dengan hanya bersentuhan seperti itu aku mulai berpikir lebih jauh... Ah ide kecil pun akhirnya muncul di kepalaku yg mulai ngeres ini. Bagaimana kalau aku pura2 saja merasa pegal2 dan minta Nia untuk memijatku. Hmmmm... Ide yg masuk akal sepertinya ya?

Diluar dugaan, Nia ternyata dengan enteng menerima permintaanku untuk dipijat. Dia bilang waktu di kampung dia memang sering disuruh memijat orang tuanya. Wuahhhh...rasa-rasanya ingin teriak girang sekali saat itu. Ideku ternyata disambut dengan mulusss...

Dengan bertelanjang dada, punggunggu dipijat Nia dengan lembutnya. Harus kuakui kalau dia memang bukan pemijat professional. Tapi bukan itu kan yg aku harapkan kan? Aku cuman ingin merasakan sensasi sentuhan jari2 Nia di tubuhku dan untungnya memang itu yg kudapatkan saat ini.

Setelah puas merasakan hangatnya tangan Nia yang telaten itu aku tiba2 punya ide yg lebih konyol lagi. Aku minta dia untuk memijat dadaku. Ya dadaku! Aneh memang kalau dia pemijat professional pasti akan bertanya2 mungkin.

Nia dari awal memijat punggungku dari belakang. Aku duduk bersila sedangkan dia setengah berdiri dengan kedua kakinya di tekuk di lutut. Saat itu aku berpikir bila kusuruh dia memijat dadaku maka mau tidak mau tubuhnya akan menempel dengan punggunggku agar tangannya dapat menggapai dadaku dr belakang. Dan benar saja... Oh dear, gunung kembar, padat dan berisi itu akhirnya menyentuh bagian belakang kepalaku... Hangat... seperti melayang rasanya...

Semakin Nia berusaha memijat dadaku dari belakang maka semakin aktif dada montoknya itu menggesek2 belakang kepalaku. Owhhh semakin terlena aku dibuatnya karena merasakan seolah kepalaku sedang ikut dipijat. Bukan dengan tangan, tapi dengan kedua payudara montoknya yang kuidam-idamkan itu!

Selama 10 menit kubiarkan kepalaku digesek-gesek oleh payudaranya. Untungnya Nia begitu lugu untuk berpikir bahwa aku sedang menikmati pijatan payudaranya itu dan dengan semangat terus memijat2 dadaku dengan aktif. Seperti disurga rasanya...

Bukan hanya kepalaku yg mulai pusing memikirkan ide2 konyol berikutnya tapi "kepala" di bawahku-pun sudah mulai bergeliat memberontak. Ahhh... That's it! Aku sudah tidak tahan lagi dan ini berarti aku ingin lebih!

Secara tiba2 aku tarik tangan nia dari dadaku dan ku remas lembut telapak tangannya. "Sudah ya pak?" Tanyanya, berpikir bahwa tindakan yang baru saja aku lakukan itu menandakan kalau aku ingin meyudahi pijatannya. "Emm... Iya Nia, tapi saya mau kamu pijetin saya yg lain" balasku agak sedikit kagok.
"Oh iya pak, mau dipijet yang mana lagi?" Tanyanya tanpa rasa curiga sedikitpun.
Sudah kepalang tanggung, ku tarik telapak tangannya dan kuarahkan masuk ke dalam celana pendekku sampai jarinya menyentuh barang kemaluanku yg dari tadi sudah berdiri tegak mengacung.

Nia kaget bukan main, secara reflek ditariknya tanggannya keluar dari celanaku. Tapi karena tanganku masih memegang erat pergelangan tanggannya, tangan Nia tidak bisa sepenuhnya keluar.
"Bapak jangan begini Pak! Nia ngga mau" pintanya dengan memelas seperti ingin menangis. Jantungku mulai deg2an. Aku mulai berpikir dengan logika, aduh bagaimana ini? Bagaimana kalau nanti dia melapor ke istriku? Bisa hancur rumah tanggaku yang baru seumur jagung ini? Hadooohhh... Tapi kalaupun aku sudahi sampai disini belum tentu juga dia tidak akan melapor?? Ahhh.. Benar2 kepalang tanggung sepertinya!

"Kenapa Nia? Ga papa koq. Saya cuman minta dipijet aja" dengan suara pelan dan kubuat semanis mungkin.
"Pak Nia takut... Nanti Nia dimarahi Ibu" balasnya dengan masih memelas.
"Ga lah Nia, kan ibu ga tahu? Ya kamu jangan bilang2 ke dia nanti. Kan kamu tahu sendiri ibu orangnya bagaimana?" Kali ini ada sedikit nada ancaman di suaraku dengan harapan dia terlalu lugu untuk tidak menyadari ancamanku yg tidak masuk akal itu.
"Ehhhh... Iy..iya Pak...." jawabnya lirih. Sepertinya ancamanku termakan olehnya. Nia memang begitu segan dengan istriku karena bila ada sesuatu yg istriku tdk suka maka dia tidak segan2 untuk memarahi pembantuku itu.

Ku tarik kembali tangan Nia dan kuarahkan jari2nya untuk menggengam batang kemaluanku. Kali ini dia diam saja. Sangking diamnya malah tangan kecilnya itu tidak melakukan apa2 terhadap kemaluanku.
"Ayo Nia, koq kamu diam aja. Kan saya minta dipijetin" pintaku dengan nada memaksa. Jari2nya pun mulai bergerak tidak beraturan. Ah memang terlalu lugu pembantuku yang satu ini...

Nia perlahan-lahan mulai mengerti apa yang ku maksud. Tangannya yang mungil itu mulai menggenggam batang kemaluanku dengan penuh dan mengocoknya pelan. Aku pandu dia dengan desahan kecilku. Setiap dia melakukan pijatan yang benar aku sengaja mendesah lebih keras agar dia tahu aku menikmati itu.

5 menit berlalu, pijatan Nia semakin sempurna. Batang kemaluanku semakin mengeras dan berharap diperlakukan lebih lagi olehnya. Sepertinya bila aku meminta lebihpun dia akan terpaksa memenuhinya pikirku saat itu.
"Udah Nia. Kita pindah ke kamar saya aja ya. Ga enak posisi saya begini nanti malah saya pegal2 lagi" ajakku dengan nada tetap memaksa.
Tanpa menunggu jawaban dari dia, aku langsung berdiri berjalan ke arah kamarku lalu tidur bersandar diatas springbed tempat aku dan istriku biasa tidur.

Berselang beberapa detik kemudian Nia masuk menyusul. Wajahnya tertunduk. Tidak begitu jelas kulihat wajahnya apakah dia sedang menyembunyikan matanya yg kemungkinan sedang basah dengan air mata. Ah, aku tidak mau ambil pusing. Aku tarik tanggannya kembali dan aku arahkan dia duduk berlutut di samping pinggul kiriku. Tangannya ku arahkan kembali untuk meremas batang kemaluanku yang kini dengan jelas mengacung bebas di hapannya.

Nia kembali memijat naik turun dan meremas2 batang kemaluanku tanpa kusuruh. Sudah paham betul sepertinya dia sekarang.
"Pijetnya agak sedikit cepat ya..." pintaku seperti memelas karena sedang keenakan dengan apa yg sedang Nia lakukan. Dia masih diam saja, tapi menuruti dengan baik.

"Oohh...ahhh... Enak Nia" desahku tak karuan. Lama2 puncak kenikmatan itu mulai berangsur-angsur datang. Sebentar lagi aku akan orgasme. Tapi memang dasar otakku sudah ngeres betul. Ku pegang leher Nia dan kupaksa menunduk ke arah kemaluanku itu dengan harapan dia mau mengulumnya.
"Kamu hisap2 ya! Buruan!" pintaku memaksa. Mungkin karena takut, langsung dilahapnya kepala kemaluanku itu yang membuat aku sempat menggelinjang sedikit karena merasakan hangatnya mulut dan air liur Nia. Ohhhh nikmat tiada tara....

Kuluman demi kuluman membuat batang kemaluanku semakin berdenyut2 kencang. Arghhh aku ingin tahan lebih lama lagi tapi ternyata tidak bisa. Kombinasi pijatan keras di batang kemaluanku dan hisapan2 kencang mulut Nia akhirnya membuat aku orgasme. Crot! Cairan hangat itu melimpah keluar dan memenuhi mulut Nia seketika. Nia terkaget bukan main, dia terbatuk tersendak dan menarik wajahnya menjauhi batang kemaluanku. Kubiarkan saja, karena kupikir aku tidak ingin membuatnya menderita lebih dari ini lagi...

Nia berlari ke kamar mandi, dan kudengar dia muntah2 berusaha mengeluarkan spermaku yang sepertinya tertelan olehnya.
Ku tunggu sampai pintu kamar mandi terbuka dan dia keluar. Nia kaget melihat aku sudah berdiri di depannya. Bisa kulihat matanya sembab seperti habis menangis.
"Nia, kamu ga papa kan. Jangan sampe kamu cerita sama ibu ya! Soalnya bukan hanya saya, kamu juga pasti akan di amuk ibu nanti kalau kamu cerita! Paham!" Teriakku dengan nada yg tidak terlalu tinggi.
"Iya pak... Nia ga cerita" balasnya lirih.
"Tapi nanti kalau Nia hamil bagaimana pak? Nia takut..." Dengan lugunya dia bertanya.
"Hamil? Ga bakalan lah Nia. Hamil itu kalau saya masukin punya saya kedalam punya kamu itu dan saya keluarin seperti yg saya keluarin tadi di mulut kamu. Baru kamu bisa hamil!".
"Iy...iya pak.. Maaf" balasnya dengan pelan terkagok-kagok lalu menunduk.
"Ya sudah, kamu istirahat saja sana. Nanti besok2 kalau saya minta dipijetin kamu sudah tahu kan?" Sambungku sambil berjalan melengos tanpa menunggu jawaban darinya.

Aku-pun kembali masuk ke kamar tidurku. Sambil merebahkan diri kuingat2 kembali sensasi yang baru saja kurasakan... Oooh nikmatnya bikin kemaluanku mulai berdiri kembali.
Ku kocok2 sampai muncrat dan akupun mulai tertidur pulas.....

Besok aku pikirkan lagi bagaimana caranya menikmati pembantuku yang cantik ini....
 



Cerita Panas Hot Bercinta Didapur Dengan Tanteku ini, merupakan cerita sedarah yang masih ada hubungan kekerabatan atau keluarga, dan perlu anda ingat bahwa cerita dewasa sedarah dengan tanteku ini berbeda dengan cerita panas tante atau pun cerita dewasa Hot yang lain-lainnya karena cerita sedarah ini sangat asik sekali, oke tanpa basa-basi lagi kita akan memulai memasuki babak cerita dewasa sebagai berikut ini silahkan pilih aja:

Cerita Panas Hot ini bermula saat aku masih duduk dikelas 3 smu. Oh ya Namaku Wawan, umurku sekarang 26 tahun. Ada sebuah Cerita Dewasa Seks yang sampai saaat ini masih saja terus kukenang dan selalu kuingat. yaitu sebuah kejadian cerita dewasa yang masih terus kuingat sampai saat ini. Saat sma aQu dititipkan kepada seorang tanteku. Tanteku ini cantik dan tubuhnya mulus aduhai bikin semua pria yang liat pasti pengen segera berhubungan tubuh dengannya. Oke deh langsung aja pada inti cerita kali ini. Yuk kita simak aja gimana sih adegan seks sedarah yang saya lakukan dengan tanteku ini ?

Tanteku namanya Yuni, dia ini seorang Single parent dengan tiga orang anak; dua perempuan dan satu laki-laki. Suaminya sudah meninggal karena kecelakaan mobil. Suaminya ini memang seorang pembalap lokal yang tidak terkenal namanya. Dengan tiga orang anak dan umurnya yang sudah 37 tahun, tanteku ini masih saja kelihatan seksi. Tubuhnya terawat, karena dengan kondisi keuangannya yang mapan, tanteku secara teratur senam. Hasilnya, walaupun dengan tiga orang anak,
tubuhnya tetap terawat dengan baik. Pantatnya besar dengan pinggul yang juga besar tapi pahanya selain putih dan mulus juga singset tanpa ada tumpukan lemak sedikitpun. Payudaranya lumayan besar, entah kira-kira berapa ukurannya akupun tidak tahu tapi yang jelas masih sekal tidak kendor layaknya seorang Ibu yang sudah melahirkan tiga orang anak.

Kejadiannya berawal pada saat yang tidak diduga sama sekali. Saat itu di rumah sedang tidak ada orang hanya ada tanteku yang sedang asyik memasak untuk hidangan makan siang, kebetulan hari itu jadwal mengajar tanteku hanya satu mata kuliah saja. Sepulang sekolah, aku menemukan tanteku didapur sedang asyik memasak. Dengan langkah gontai karena kecapekan, aku langsung menghampiri meja makan.

Tante Yun, belum siap yah makanannya? tanyaku kelaparan.
Belum Wan, sabar yah. Ini lo si Suti (pembantu tanteku) pulang tadi pagi, jadinya ya gini nih repot sendiri keluh tanteku
Di dahinya terlihat cucuran keringat, belum lagi tangannya yang belepotan dengan berbagai macam bumbu yang sedang diraciknya. Kelihatan sekali kalau tanteku tidak pernah kerja Sekeras ini. Walaupun begitu, entah kenapa terlihat sekali wajah tanteku semakin cantik. Saat itu dia hanya menggunakan daster pendek yang sebenarnya tidak ketat tapi karena bentuk pantat dan pinggulnya yang besar, daster itu jadi kelihatan agak ketat dan memetakan garis dari celana dalamnya kalau dia sedang membungkukkan badannya. Ah, seksi sekali pikirku kotor.

Wawan bantuin ya Tante? tawarku.
Boleh Wan, sini! ternyata tanteku tidak keberatan.
Tidak ada angin tidak ada hujan, belum sampai aku mendekat, entah karena apa tiba-tiba kran air di cucian piring copot dari pangkalnya. Otomatis air yang langsung dari tandon air yang penuh menyembur dengan derasnya mengenai tanteku yang kebetulan ada didepannya.
Aduh Wan, tolong.., gimana ini? tanteku dengan paniknya berusaha menutupi saluran air yang menyembur dengan tangannya.
Karena tubuh tanteku tidak terlalu tinggi, untuk mencapai saluran itu dia harus sedikit membungkuk. Terlihat sekali dasternya yang sudah basah kuyup itu sekali lagi memetakan pantatnya yang besar. Garis celana dalamnya kini terlihat lebih jelas.
Dengan tergesa-gesa, tanpa pikir-pikir lagi aku segera mendekat dan membantunya menutup saluran air itu dengan tanganku juga. Tanpa aku sadari ternyata posisi tubuhku saat itu seperti memeluk tubuhnya dari belakang. Bisa di bayangkan, tanpa sengaja juga kontolku mengenai belahan pantatnya yang sekal. Keadaan ini bertahan beberapa lama. Hingga menimbulkan sesuatu yang kotor dipikiranku.
Aduh Wan gimana ini? tanya tanteku tanpa bisa bergerak.
Duh gimana ya Tante, aku juga bingung. kataku mengulur waktu.
Saat itu, karena gesekan-gesekan yang berlebihan di kontolku, aku jadi tidak bisa menahan gairah untuk merasakan tubuhnya. Pelan-pelan aku melepas satu tanganku dari saluran air itu, pura-pura meraba-raba disekitar cucian piring, mencari sesuatu untuk menutup saluran air itu sementara. Tanpa sepengetahuannya aku justru melepas celanaku berikut juga celana dalamku. Memang agak susah tapi akhirnya aku berhasil dan dengan tetap pada posisi semula kini bagian bawahku sudah tidak tertutup apa-apa lagi.

Wah, nggak ada yang bisa buat nutup Tante. Sebentar Wawan carikan dulu yah
Kini niatku sudah tidak bisa ditahan lagi, pelan-pelan aku melepas peganganku di saluran air.
Pegang dulu Tante kataku sedikit terengah menahan gairah.
Yah, gih sana cepetan, Tante sudah pegal nih sungut tanteku.

Kemudian tanpa pikir panjang, secepat kilat aku menyingkap dasternya, kemudian secepat kilat juga berusaha untuk melorotkan celana dalamnya yang entah warnanya apa, karena sudah basah kuyup oleh air, warna aslinya jadi tersamar.
Ehh.. apa-apan ini Wan, jangan gitu dong!? tanpa sadar tanteku melepas pegangannya disaluran air untuk menahan tanganku yang masih berusaha melepaskan celana dalamnya. Air menyembur lagi.

Auhh.. ohh suara tanteku jadi tidak jelas karena mulutnya kemasukan air. Tanpa sadar juga tanteku berusaha untuk menutup saluran air dengan tangannya lagi, otomatis tanganku sudah tidak ada yang menahan lagi.
Kesempatan pikirku, dengan satu sentakan celana dalam tanteku melorot sampai diujung kakinya.
Auwch.. duh Wan jangan, aku ini tantemu, jangann.. Mohon tanteku.
Kepalang tanggung, aku langsung jongkok. Aku lalu menyibak pantatnya yang besar dan mencari liang senggamanya. Kudekatkan kepalaku, kujulurkan lidahku untuk mencapai vaginanya.
Auwchh.. Wan.. ahh.. jilatan pertamaku ternyata membuatnya bergetar tanpa bisa beranjak dari tempat semula, kalau bergerak air pasti akan menyembur lagi.

Lidahku semakin leluasa merasakan aroma dari vaginanya, semakin kedalam membuat tanteku bergetar hebat. Entah kenapa sudah tidak ada lagi bahasa tubuhnya yang menunjukkan penolakan, yang ada kepalanya semakin menggeleng-geleng tidak keruan. Kecari klitorisnya, memang agak sulit, setelah dapat kuhisap habis, dua jariku juga ikut menusuk liang vaginanya. Tidak terkira jumlah lendir yang keluar, tak lama kemudian, terasa pantatnya bergetar hebat.

Ahh..hh Wann.. ahh aouhh.. dengan erangan keras, rupanya tanteku sudah mencapai orgasme. Tubuhnya langsung lunglai tapi tanpa melepas pengangannya dari saluran air.
Aduh aku belum apa-apa pikirku.
Langsung aku berdiri, kusiapkan senjataku yang sudah mengacung dengan keras. Dengan dua tanganku aku coba menyibakkan kedua belahan pantatnya sambil kudekatkan kontolku kevaginanya. Kudorongkan sedikit demi sedikit. Begitu sudah betul-betul tepat dimulut liang kenikmatannya, tanpa ba-bi-bu langsung kulesakkan dengan kasar.

Ahh sakit Wan.. pelan.. auh kepala tanteku langsung melonjak keatas, tanpa sengaja pegangannya di saluran air terlepas. Air menyembur dengan deras. Kepalang basah, begitu mungkin pikir tanteku karena selanjutnya dia hanya berpegangan dipinggiran cucian piring. Sudah tidak ada penolakan pikirku.

Kudiamkan sebentar kontolku yang sudah masuk hingga pangkalnya didalam vagina tanteku, ku nikmati benar-benar bagaimana ternyata vagina yang sudah mengeluarkan tiga orang manusia ini masih saja nikmat menggigit. Sensasi yang sangat luar biasa sekali. Pelan-pelan kutarik, kemudian kudorong lagi.

Oohh.. Wan enak, terus sayang..yang cepat aouhh.. ahh.. terus sayang pantatnya bergoyang melawan arah dari kocokanku.
Nah gitu Wan, ouhh.. ya gitu teruuss.. Pinta tanteku.
Aku terus mengocokkan kontolku dengan cepat. Sebentar kemudian tubuhnya mulai bergetar hebat.
Yang cepat Wan, Tante sudah mau keluar lagi.. ouhh.. terus kepalanya semakin menggeleng-geleng tidak karuan.
Cepatt.. cepatt truss.. ouchh.. Tante kelluaarr.. aghh Orgasmenya telah sampai dibarengi dengan kepalanya yang melonjak naik, tangannya mencengkeram pinggiran cucian piring dengan erat.
Cabut dulu Wan.. Tante linuu.. pinta tanteku, karena merasakan aku yang masih mengocoknya dari belakang.
Akan wawan cabut, tapi janji nanti diteruskan ya Tante? kataku.
Iya, tapi sekarang dari depan aja yah janji tanteku.

Tubuhnya kemudian berbalik. Wajahnya sudah awut-awutan dan basah kuyup. Kemudian dia duduk diatas cucian piring sambil menghadapku. Aku mendekat, langsung kucari bibirnya dan kemudian kami berpagutan lama. Sambil kami berciuman, satu tangannya membimbing kontolku kearah liang vaginanya. Tanpa disuruh dua kali kudorongkan pantatku dibarengi dengan masuknya juga kontolku.

Ahh.. oohh.. erang tanteku, ciuman kami terlepas.
Kocokkan yang cepatt wann.. pinta tanteku sambil pahanya semakin dilebarkan.
Begini Tante.. Kataku sambil mengocokkan kontolku dengan cepat.
Gila kamu Wann.. kuaatt sekalii kamuu.. sambil satu tangannya menarik satu tanganku, kemudian ditaruhnya di bagian atas vaginanya. Aku tahu mau maksudnya.
Yahh yang ituu.. teruss Wann.. ohh enakk.. Wan teeruss.. rintih tanteku ketika sambil kontolku mengocok vaginanya tanganku juga memelintir klitorisnya.
Ohh Wan, Tante hampir sampai.. tubuhnya mulai bergetar agak keras.
Aku juga hampir sampai Tante.. ohh punya Tante eenakk.. aku mulai tidak bisa mengendalikan lagi, orgasmeku tinggal sebentar lagi.
Dikeluarin dimana Tante? tanyaku minta ijin.
Udah nggak usah mikirin itu, ayoo teruss.. didalemm jugaa nggakk Papa
Ayoo..Tante udah diujung nihh wann..
Ouhh.. enakk.. cepatt Wann.. yangg cepatt rintih tanteku.

Goyang Tante, kita barengan ajaa.. oghh orgasmeku sudah diujung.
Semakin kupercepat kocokanku, tanteku juga mengimbangi dengan menggoyang pantatnya. Sambil berpegangan pada belakang pantatnya, kukeluarkan air maniku.
Aku keluarr tantee.. aughh.. sambil kubenamkan dalam-dalam.
Tante juga Wann.. oughh akhh.. gilaa.. uenakknya.. erangnya sambil jemarinya mencengkeram bahuku.
Akhirnya kami berdua terkulai lemas. Kudiamkan dulu kontolku yang masih ada didalam vaginanya. Kulirik ada sedikit lelehan air mani yang keluar dari vaginanya. Seperti tersadar dari dosa, tanteku mendorong badanku.
Kamu nakal Wan, berani sekali kamu berbuat ini sungut tanteku.
Tapi Tante juga menikmatinya kan? belaku.
Tanpa berkata apa-apa, dia kemudian turun, meraih celana dalamnya kemudian berlalu kekamar mandi. Aku berusaha mengejarnya tapi dia sudah lebih dulu masuk kamar mandi kemudian menguncinya.
Tante air di tandon tadi sudah habis loh candaku dari luar kamar mandi tapi tidak ada balasan dari dalam.

Nah itulah cerita dewasa atau cerita panas sedarah dengan tanteku, dan cerita ini memang aku tuliskan untuk anda para penikmat cerita panas dan cerita dewasa.
- See more at: http://impian-blog.blogspot.com/2013/03/cerita-panas-hot-bercinta-didapur.html#sthash.lMDi4KIy.dpuf

Cerita Dewasa aku dan tante nginep

Aku Sony, berumur 23 tahun. Ini cerita mengenai pengalamanku. Pertama-tama aku mau cerita soal diriku. Aku saat ini kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Malang. Di Malang aku tinggal dengan tanteku. Tanteku orangnya masih muda, umurnya hanya selisih 3 tahun denganku. Itulah mengenai diriku, dan selanjutnya silakan ikuti pengalamanku ini.
Saat itu aku baru saja pulang kuliah, langsung saja kumasuk ke kamar. Ketika baru sampai di depan pintu kamar, samar-samar kudengar tante sedang bicara dengan temannya di telpon. Aku orangnya memang suka jahil, kucoba menguping dari balik pintu yang memang sedikit terbuka. Kudengar tante mau mengadakan pesta seks di rumah ini pada hari Sabtu. Aku gembira sekali mendengarnya. Untuk memastikan berita itu, langsung saja aku masuk ke kamar tante. Setelah selesai telpon, tante kaget melihatku sudah masuk ke kamarnya.
“Lho Son, Kamu udah pulang rupanya. Kamu ada perlu ama Tante, ya..?” katanya.
Aku langsung saja to the point, “Tante, Sony mau nanya.., boleh khan..?” kataku.
“Boleh aja keponakanku sayang, Kamu mau nanya apa..?” sambungnya sambil menyubit pipiku.
“Tapi sebelumnya Sony minta maaf Tante, soalnya Sony tadi nggak sengaja nguping pembicaraan Tante di telpon.”
“Aduhh.. Kamu nakal ya Son, awas nanti Aku bilangin ama Mama Kamu lho. Tapi.. Oke dech nggak apa-apa. Terus apa yang mau Kamu tanyakan, ayo bilang..!” katanya agak jengkel.
“Sony tadi dengar Tante ama teman Tante mau ngadain pesta seks disini, benar itu Tante..?” kataku pelan.
“Idihh.. jorok ach Kamu. Masak Tante mau ngadain pesta seks disini, itu nggak benar Son.”
“Tapi tadi Sony dengar sendiri Tante bicara ama teman Tante, please donk Tante, jangan bohongin Sony. Nanti Sony bilangin ama Om kalau Tante mau ngadain pesta disini.” kataku agak mengancam.
“Apaa..! Aduhh.., Son, please jangan bilang ama Om Kamu. Iya dech Tante ngaku.” katanya agak memohon.
“Nah, khan ketahuan Tante bohongin Sony.” kataku senang.
“Terus Kamu mau apa kalau Tante ngadain pesta..?” katanya penasaran.
“Gini Tante, anuu.., anuu.., Sony.., pengen.. anuu..”
“Anu apa sih Son..? Ngomong donk terus terang..!” katanya tambah penasaran.
“Boleh nggak, Sony ikutan pestanya Tante..?”
Aduh tante melotot lagi sambil berkata, “Udah, ah, Kamu ini kayak orang kurang kerjaan aja.”
Terus kurayu lagi, “Yaa.. Tante.. ya.. please..!”
“Tapi ini khan untuk orang dewasa lagi, Kamu ngaco dech. Lagian khan Kamu masih kecil.” katanya agak kesal.
“Tapi Tante, Sony khan udah gede, masak nggak boleh ikut. Kalau nggak percaya, Tante boleh lihat punya Sony..!”
Lalu kulepaskan celana dan CD-ku. Lalu terlihatlah batang kemaluanku yang lumayan besar, kira-kira panjangnya 17 cm dengan diameter 10 cm.
Tante kaget sekali melihat ulahku lalu, “Wowww.., Sony sayang.., punya Kamu besar dan panjang sekali. Punya Kamu lebih besar dari Om Kamu. Hhhmm.., boleh nggak Tante pegang kepala yang besar itu Sayang..?” katanya dengan genit.
“Tante boleh ngobok-ngobok kontolku, tapi Tante harus ngijinin Sony ikut pesta nanti..!” kataku agak mengancam.
“Ya dech, Sony nanti boleh ikut. Tapi Tante mau nanya ama kamu, Sony udah pernah ngeseks belom..?” tanyanya.
Lalu kukatakan saja kalau aku belum pernah melakukan seks dengan cewek, tapi kalau raba sana, raba sini, cium sana, cium sini sih aku pernah melakukannya.
“Mau nggak Tante ajarin..?” katanya dengan genit.
Aku hanya terdiam. Lalu tiba-tiba tante meletakkan tangannya di pahaku. Aku begitu terkejut.
“Kenapa Kamu terkejut..? Tante hanya memegang paha Kamu aja kok..!”
Kemudian tante mengambil tanganku, lalu dia mulai menciumi tanganku. Aku merasakan barangku mulai bangun.
Tanteku mulai menciumi leherku, kemudian bibirku dilumat juga. Dia masukkan lidahnya ke dalam mulutku, tanpa kusadari aku mengulum lidahnya. Nafasnya mulai tidak beraturan kudengar. Sementara kami asyik berciuman, tangannya mulai meraba-raba batang kemaluanku. Dia meremas-remas pelan. Aku pun jadi mulai berani. Kumasuki tanganku ke dalam bajunya untuk meraba payudaranya. Kumasukkan tanganku ke dalam bra-nya, terus kuremas-remas.
“Aaahh..” dia mulai mendesah.
Tidak lama aku disuruh duduk di tepi ranjang, sementara tante melepaskan bajunya step-by-step. Mataku tidak berkedip sedetik pun. Aku tidak mau melepaskan pemandangan yang indah itu dari mataku. Kelihatan bra-nya yang berwarna hitam transparan, sehingga payudaranya yang putih dengan putingnya yang merah kecoklatan samar terlihat. CD-nya ternyata berwarna hitam transparan berenda. Kulihat belahan vaginanya yang tidak ada bulunya itu. Lalu dia melepaskan bra-nya, payudaranya yang lumayan besar itu seperti loncat keluar dan mulai berayun-ayun, membuatku tambah tegang saja. Kemudian dia melepaskan CD-nya. Kelihatan vaginanya begitu menarik, agak kecoklatan warnanya. Lalu tante jalan menghampiriku yang duduk di tepi ranjang.
“Tante buka baju Kamu yaa.., Son..?” katanya genit.
Aku hanya mengangguk. Setelah aku telanjang total, tante langsung jongkok di depanku dan menyuruhku membuka kaki lebar-lebar. Batang kejantananku yang sudah tegang itu tepat di depan wajahnya. Lalu dia mulai menjilati kakiku mulai dari jempol kakiku dan yang lainnya. Dia naik ke betisku yang berbulu lebat, persis hutan di Kalimantan. Kemudian dia naik lagi ke pahaku, dielusnya dan dijilatinya, setelah itu dia berpindah ke lubang anusku yang juga dicium dan dijilatinya. Tidak hanya itu, ternyata dia memasukkan jari tengahnya ke lubang anusku. Ohh.., nikmatnya. Lalu dia mulai mengelus-elus batang kejantananku dan tangan satunya memijat-mijat my twins egg-ku.
“Aaahh..!” aku mengerang kenikmatan.
Kemudian dia memasukkan batang kejantananku ke mulutnya, dia hisap penisku, terus diemut-emutnya senjata kejantananku. Dia gerakkan kepalanya naik-turun dengan batang kejantananku masih di dalam mulutnya. Terasa penis saya menyentuh tenggorokannya dan masih terus dia tekan. Masih dia tekan terus sampai bibirnya menyentuh badanku. Semua batang penisku ditelan oleh tanteku, lidahnya menjilat bagian bawah penisku dan bibirnya dibesar-kecilkan, sebuah rasa yang tidak pernah kubayangkan. Penisku kemudian dikeluar-masukkan, tapi tetap masuk seluruhnya ke tenggorokannya.
Setelah beberapa lama dihisap dan dikeluar-masukkan, terasa batang penisku sudah mau mengeluarkan cairan.
Sambil memeras biji kemaluanku dan tangan yang satu lagi dimasukkannya ke dalam lubang pantatku, kubilang sama tante, “Tante.., Aku mau keluar, ohh..!”
Dia keluarkan penisku dan bilang, “Go on come in My mouth. I want to taste and drink your cum, Sony. Hhhmm..”
Penisku dimasukkan lagi, dan sekarang dia memasukkan dengan lebih dalam dan dihisap lebih keras lagi. Setelah beberapa kali keluar masuk, kukeluarkan spermaku di dalam mulut tante, dan langsung ke dalam tenggorokannya. Terasa tengorokannya mengecil dan jari di lubang pantatku lebih ditekan ke dalam lagi sampai semuanya masuk. Aku benar-benar merasakan nikmat yang sulit dikatakan.
Perlahan-lahan dia mengeluarkan batang penisku sambil berkata, “Punya Kamu enak Son.., Tante suka,” katanya, “Sekarang giliran Kamu yaahh..!” pintanya.
Kemudian dia berbaring di tempat tidur dan kakinya dikangkanginya lebar-lebar. Tante menyuruhku menjilat vaginanya yang kelihatan sudah basah. Baru pertama kali itu kulihat vagina secara langsung. Dengan agak ragu-ragu, kupegang bibir vaginanya.
“Jangan malu-malu..!” katanya.
Kugosok-gosok tanganku di bibir kemaluannya itu. Mmmhh.., dia mulai mengerang. Lama-lama klitorisnya mulai mengeras dan menebal.
“Kamu jilat dong..!” pintanya.
Kemudian aku menunduk dan mulai menjilati liang senggamanya yang sudah merah itu.
“Mmmhh.., enak juga..” kupikir.
Aku semakin bersemangat menjilati vagina tanteku sendiri. Sedang asyik-asyiknya aku menjilati liang senggama, tiba-tiba badan tanteku mengejang.
Desahannya semakin keras, “Aaahh.., aahh..!”
Lalu muncratlah air maninya dari lubang senggamanya banyak sekali. Langsung saja kutelan habis cairan itu. Mmmhh.., enak juga rasanya.
Kemudian dia bilang, “Ohh.., God.. bener-bener hebat Kamu Son.. lemes Tante.. nggak kuat lagi dech untuk berdiri.., ohh..!”
Lalu dengan perlahan kutarik kedua kakinya ke tepi ranjang, kubuka pahanya lebar-lebar dan kujatuhkan kakinya ke lantai. Vaginanya sekarang sudah terbuka agak lebar. Nampaknya dia masih terbayang-bayang atas peristiwa tadi dan belum sadar atas apa yang kulakukan sekarang padanya. Begitu tante sadar, batang kejantananku sudah menempel di bibir kemaluannya.
“Tante, Sony udah nggak tahan nich..!” kataku memohon.
Dia mengangguk lemas, lalu, “Ohh..!” dia hanya bisa menjerit tertahan.
Lalu selanjutnya aku tak tahu bagaimana cara memasukkan penisku ke dalam liang senggamanya. Lubangnya agak kecil dan rapat. Tiba-tiba kurasakan tangan tante memegang batang kejantananku dan membimbing senjataku ke liang kenikmatannya.
“Tekan disini Son..! Pelan-pelan yaa.., punya Kamu gede buanget sih..!” katanya sambil tersenyum.
Lalu dengan perlahan dia membantuku memasukkan penisku ke dalam lubang kemaluannya. Belum sampai setengah bagian yang masuk, dia sudah menjerit kesakitan.
“Aaa.., sakit.. oohh.., pelan-pelan Son, aduhh..!” tangan kirinya masih menggenggam batang kemaluanku, menahan laju masuknya agar tidak terlalu keras.
Sementara tangan kanannya meremas-remas rambutku. Aku merasakan batang kejantananku diurut-urut di dalam liang kenikmatannya. Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tapi tangan tante membuat penisku susah untuk memasukkan lebih dalam lagi.
Aku menarik tangannya dari penisku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya. Kemudian kudorong batang kejantananku masuk sedikit lagi.
“Aduhh.., sakitt.., ohh.. sshh.. aacchh..” kembali tante mengerang dan meronta.
Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tak sabar lagi kupegang erat-erat pinggulnya supaya dia berhenti meronta, lalu kudorong sekuatnya batang kemaluanku ke dalam lagi. Kembali tante menjerit dan meronta dengan buasnya.
Aku berhenti sejenak, menunggu dia tenang dulu lalu, “Lho kok berhenti, ayo goyang lagi donk Son..,” dia sudah bisa tersenyum sekarang.
Lalu aku menggoyang batang kejantananku keluar masuk di dalam liang kenikmatannya. Tante terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku.
Lama juga kami bertahan di posisi seperti itu. Kulihat dia hanya mendesis, sambil memejamkan mata. Tiba-tiba kurasakan bibir kemaluannya menjepit batang kejantananku dengan sangat kuat, tubuh tante mulai menggelinjang, nafasnya mulai tak karuan dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.
“Ohh.., ohh.., Tante udah mo keluar nich.., sshh.. aahh..” goyangan pinggulnya sekarang sudah tidak beraturan, “Kamu masih lama nggak, Son..? Kita keluarin bareng-bareng aja yuk.. aahh..!”
Tidak menjawab, aku semakin mempercepat goyanganku.
“Aaahh.., Tante keluar Son..! Ohh ennaakk..!” dia mengelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku.
Aku semakin bersemangat menggenjot. Aku juga merasa bahwa aku juga akan keluar tidak lama lagi.
Dan akhirnya, “Ahh.., sshh.. ohh..!” kusemprotkan cairanku ke dalam liang kewanitaannya.
Lalu kucabut batang kejantananku dan terduduk di lantai.
“Kamu hebat..! Sudah lama Tante nggak pernah klimaks.., oohh..!” katanya girang.
“Ohh.., Sony cape.., Tante!” kataku sambil tersenyum kelelahan.
Kami tidak lama kemudian tertidur dalam posisi kaki tante melingkar di pinggangku sambil memeluk dan berciuman. Aku sudah tidak ingat jam berapa kami tertidur. yang kutahu, ada yang membersihkan penisku dengan lap basah tapi hangat. Ternyata tante yang membersihkan batang kejantananku dan dia sudah terlihat bersih lagi. Setelah selesai membersihkan penisku, dia langsung menjilatinya lagi. Dengan tetap semangat, batang kejantananku dihisap dan dimasukkan ke dalam mulutnya. yang ini terasa lebih dalam dan lebih enak, mungkin posisi mulut lebih cocok dibandingkan waktu aku berdiri.
Dengan cepat batang keperkasaanku menjadi keras lagi dan dia bilang, “Son, sekarang Kamu kerjain Tante dari belakang ya..!”
Dia kemudian membelakangiku, pantat serta vaginanya terlihat merekah dan basah, tapi bekas-bekas spermaku sudah tidak ada. Sebelum kumasukkan batang kejantananku, kujilat dulu bibir vaginanya dan lubang pantatnya. Tercium bau sabun di kedua lubangnya dan sangat bersih. Cairan dari liang senggamanya mulai membasahi bibir kemaluannya, ditambah dengan ludahku. Di ujung kemaluanku terlihat cairan menetes dari lubang kepala kejantananku. Kuarahkan batang kemaluanku ke lubang vaginanya dan menekan ke dalam dengan pelan-pelan sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari batang kejantananku dan vaginanya, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi ini.
Tante kemudian berdiri dan bersandar ke dinding di atas tempat tidur sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke atas. Dari bawah, kemaluannya terlihat sangat merah dan basah.
“Ayo masukin lagi sekarang, Son..!” pintanya tak sabar.
Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan batang kejantananku ke liang senggamanya. Dengan posisi ini, kumasuk-keluarkan batang kejantananku. Setiap kali aku mendorong batang penisku ke liang senggamanya, badan tante membentur dinding.
Sambil memelukku dan sambil berciuman, dia bilang, “Son, Tante mo keluar nich..!”
Kemudian kurasakan lubang senggamanya diperkecil dan memijat batang keperkasaanku dan bersamaan kami keluar dan orgasme. Aku masih bisa juga keluar, walaupun tadi sudah keluar dua kali. Dan yang kali ini sama enaknya.
Kami terus rebahan di kasur sambil berpelukan. Kepala tante di dadaku dan tangannya memainkan penisku yang masih basah oleh sperma dan cairan vaginanya. Dengan nakal tante menaruh jari-jarinya ke wajahku dan mengusap ke seluruh wajahku. Bau sperma dan vaginanya menempel di wajahku. Dia tertawa waktu aku pura-pura mau muntah. Untuk membalasnya, kuraba-raba vaginanya yang masih banyak sisa spermaku dan seluruh telapak tanganku basah oleh sperma dan cairan dia. Pelan-pelan kutaruh di wajahnya, dan wajahnya kuolesi dengan cairan itu. Dia tidak mengeluh tapi justru jari-jariku dijilat satu persatu.
Setelah jari dan tanganku bersih, dia mulai menjilati wajahku, semua bekas sperma dan cairannya dibersihkan dengan lidahnya.
Selesai dengan kerjaannya, dia bilang, “Son, sekarang giliran Kamu yaahh..!”
Wow, tidak disangka aku harus menjilat spermaku sendiri. Karena tidak punya pilihan, aku mulai menjilati cairan di wajahnya, dimulai dari bibirnya sambil kukulum keras-keras. Nafas tante terasa naik lagi dan tangannya mulai memainkan batang kejantananku. Tidak disangka kalau aku bisa juga membersihkan wajahnya dan menjilat spermaku sendiri.
Tanganku diarahkan ke liang senggamanya dan digosok-gosokkan ke klit-nya. Kami saling memegang kira-kira 30 menit. Terus kami berdua mandi untuk membersihkan badan kami.