Tanpa dipuaskan sama sekali aku pulang ke rumah. Tom malam itu tidak
pulang. Sepertinya dia dapat perek yang bisa dientot olehnya. Lucky guy!
Aku tidak ada pilihan lain selain masturbasi lagi sambil
membayangkan dientot sama Aldi. Aku juga tidak bisa melupakan tatapan
Nadya yang horny saat ia membersihkan kontol suaminya.
Paginya sebelum aku berangkat kerja, Tom pun pulang.
“Baby
i missed u so much!” kataku sambil merangkulnya! Ia masih kesal namun
aku paksa dia untuk mengentotku saat itu, disitu juga. Akhirnya aku pun
keluar! Finally. Tapi sepertinya Tom tidak keluar banyak. Aku tidak tau
perek bule siapa yang sekarang jalan2 dengan memek becek karena suamiku.
Kegiatan pagi hariku di kantor benar2 membosankan. Aku diajak
pergi lunch dengan Pete dan Mark (orang departemen Media) ke JW Marriot.
Sepanjang lunch Pete meremes2 pahaku terus menerus. Aku biarkan, namun
tidak aku tanggapi juga.
Kira2 30 menit setelah lunch, aku dapat
telfon dari resepsionis. Katanya ada orang mau ketemu dengan saya.
Karena emang aku menunggu tamu orang dari production house, saya pun ke
lobby.
Betapa kagetnya diriku melihat Nadya duduk menunggku. Ia
dandan benar2 seperti supermodel. Sendal berhak tinggi, rok super-mini,
tank-top yang aku kira dipakainya tanpa bh dan dandanan yang cukup
rapih. Namun kecantikannya benar luar biasa, sehingga ia tidak terlihat
murahan sedikit pun. Aku juga baru menyadari betapa besar dan kencangnya
kedua toketnya. Saat melihatku ia berdiri. Aku bingung harus berkata
apa, untung aku dapat akal untuk membawa dia ke ruang meeting yang
kosong – daripada jadi awkward dan orang2 mulai gossip aneh2 lagi!
Aku
tutup pintunya. Aku berbalik dan ternyata Nadya sudah duduk diatas
meja. Sebelum aku sempat be tanya apa2, ia berkata: “Ada kado dari Aldi.
Aku disuruh mengantarkannya ke kamu…” Aku baru sekali ini mendengar
suaranya. Lembut, lemah, hampir seperti ABG.
Aku tidak mengerti
apa yang dimaksud olehnya. Tetapi tiba2 yang mengangkat kedua kakinya ke
atas meja. Mengangkang selebar-lebarnya! Astaga! I can’t believe it!
Nadya tidak memakai panties! Dari jarak 1 meter aku bisa mencium bau
khas memek yang basah tercampur dengan bau peju! Benar saja… Ternyata
memeknya Nadya sepertinya abis dientot dan dijadikan penampungan sperma!
Sambil membuka lubang vaginanya dengan jarinya ia menatapku
dengan sayu: “Kamu harus habisin katanya Aldi, kalau besok2 mau datang
ke rumah lagi!”
Aku tak tau lagi harus bagaimana? Aku merasa
kotor sekali melakukannya namun aku juga terangsang tiada taranya! Aku
langsung menyambar memeknya Nadya! Mulutku kutempelkan di bibir memeknya
sambil aku sedot2 isi sperma yang ada. Hidungku bergesekan dengan
klitorisnya! Iya, aku memang pelacur murahan yang gunanya hanya untuk
menelan sperma!
“Hmmmmgh….hmmmgh…” Nadya mengerang kecil…
Tangannya menahan kepalaku agar menghisap lebih kuat lagi. Otot2
memeknya berkontraksi sehingga menekan keluar sperma di memeknya…
“Ohhhh… Nadya… I love your pussy! Basah sekali sayang! Basah sekali!”
Pahanya yang halus dan langsing menjepit kepalaku. Aku menjilat memeknya
dari bawah ke atas, menjilat2 dari dekat lubang anusnya sampai ke
klitorisnya… Nadya mengerang cukup keras.
”Oh my god…” kataku diantara jilatan, ”..banyak sekali spermanya! I can’t believe this!”
Memang
sepertinya sperma yang tertampung di dalam memek Nadya jauh lebih
banyak daripada waktu terakhir saat aku ‘membersihkannya’.
Ia membisikkan ke telingaku terengah2: “Kamu aneh ya, kok spermanya banyak begini?”
Aku hanya menganggukkan kepala sambil terus menyedot cairan asin peju dari lubang kenikmatannya yang tiada habisnya.
“…
Karena… Ini… Sperma…kumpulan… dari 4 cowok yang berbeda… yang baru saja
mengentotku sebelum aku kesini…” Aku seperti mau pingsan! Pelacur
paling rendahan pun mungkin tidak akan melakukan ini! 4 orang! Tanpa
menyentuh memekku pun aku orgasme! Bersamaan dengan Nadya yang
membanjiri mulutku dengan asamnya cairan kewanitaanya!
Dengan
muka belepotan sperma aku terhempas di salah satu kursi ruang meeting.
Nadya mencium bibirku dan lidahnya menjulur2 ke dalam mulutku menyedot2
sisa2 sperma yang ada dimulutku. Ia juga menjilat2 lelehan sperma yang
mengalir ke daguku. Sepertinya lidahnya udah jago sekali dalam
jilat-menjilat. Ia mencium keningku dengan penuh kasih sayang dan
meninggalkanku di ruangan meeting itu tanpa berkata apa2. Sambil
membersihkan mukaku aku bertanya2 pada diriku mengapa aku bisa jatuh
serendah ini.
No comments:
Post a Comment