Dua bulan yang lalu aku memulai affair dengan bos-ku di kantor.
Sebenarnya Peter atau Pete bukan bos-ku langsung melainkan bos
departemen client-service di advertising agency dimana aku bekerja.
Awalnya aku kesel banget sama kelakuannya yang sok merintah-merintah
siapa saja kalau dia lagi kesel. Tetapi suatu malam, waktu kita abis
merayakan masuknya new business ke agency kami, kita satu team pergi ke
Wwwok! di Kemang buat sedikit minum2. Mungkin karena bos-ku stress
banget setelah dua atau tiga minggu kerja non-stop, dia sedikit
keterlaluan maboknya. Anak2 kantor seperti biasa cuma ketawa2 saja liat
tingkahnya yang tidak bisa berhenti ngajak orang ngobrol kalau sudah
mabok. Tapi tidak ada yang menyadari bahwa dia selalu mencoba untuk
merayuku. Dari mulai matanya yang tidak bisa lepas dari cleavage-ku saat
berbicara denganku, sampai dengan tangannya yang terkadang mengelus
buah pantatku dari luar rok ketatku. Waktu ia pergi ke toilet pun aku
bisa merasakan ereksinya bergesek dengan pahaku. Jujur aku jadi horny
juga, dan terpikir olehku untuk ke kamar kecil untuk membuka g-string-ku
yang sudah lepek banget.
Setelah anak2 yang lain mulai bubar,
aku menawarkan untuk mengantar Pete pulang, mengingat keadaannya yang
sedemikian parahnya. Dia setuju, dan kami pun menuju pelataran parkir.
Waktu itu sudah hampir pagi, jadi tinggal ada mas2 penjaga parkiran aja
yang ada di dekat mobil-ku. Pete tidak berhenti juga nyerocos sambil
mabok, padahal jalan saja sudah susah dan harus bertumpu di bahuku.
Kadang2 ia jahilnya datang dan meremas toketku dari luar tank-top yang
aku pakai waktu itu. Tukang parkir yang menunggu dekat mobilku tertegun
melihat nipple-ku keluar dari bungkusnya karena tertarik sama tangan si
pemabok. Aku hanya tersenyum nakal saja. Aku paling suka kalau bikin
cowok tersipu2 dengan badanku!
Aku menyalakan mobil dan langsung
cabut. Tukang parkir tidak kubayar – enak aja, kan udah liat toket
gratis! Baru sampai Jalan Prapanca, bos-ku melepas seatbelt-nya. Aku
pertama bingung. Dia ternyata membenamkan mukanya di selangkangan aku,
sambil menarik rokku ke atas! Aku hampir menabrakkan mobilku ke trotoar.
I was horny as hell!
Sambil terus ngoceh, si bos menjilat pahaku… makin lama makin ke atas…
”Pete,
please stop it!” kataku sambil memijit-mijit memekku yang basah dengan
merapatkan pahaku. Tetapi dia tidak memperdulikanku! Terus, naik, naik,
naik, sampai dekat sekali dengan memekku yang basah…
”I can smell your wet cunt, Anissa!”
Ia
meregangkan pahaku dan menarik g-string-ku sampai putus di pinggulku.
Aku meregangkan pahaku, terasa mukanya dengan bulu-bulu jenggot pedek
yang kasar dibenamkan di antara pahaku. Lidahnya menjulur-julur kedalam
memekku yang benar2 sudah banjir! Tapi, karena aku harus menyetir
mobilku, aku sulit sekali terus mengangkangkan pahaku seperti yang ku
mau, sehingga, permainannya terputus2. Aku kesel banget!
Untung
kami tidak lama kemudian sampai di rumahnya. Mobil aku parkir di jalanan
di depan rumahnya. Saat aku hendak membuka pintuku, ia berkata: ”Babe,
sorry, but you can’t come in. My wife’s at home and it would be… you
know….” Sialan! Umpatku dalam hati. Udah dibikin horny gini, sekarang
aku gak boleh masuk ke rumahnya! Aku sudah benar2 butuh dientot banget.
Aku tidak akan bisa nunggu sampai rumah untuk dientot sama suamiku.
Akhirnya aku nyerah deh!
Aku menghadap ke jendela samping
sebelah kanan, dan menunggingkan pantatku ke arah si Pete. Dia sedikit
bingung sepertinya. Tetapi aku angkat rokku keatas dan terpampanglah
vagina dan lubang pantaku yang sudah basah dari cairan memekku yang
banjir.
”Just fuck me Pete. Stick your dick up my pussy!
Please!” desahku. Aku tetap duduk menyamping sambil menunggingkan
pantatku ke arahnya. Aku sudah masa boso kalau ada orang yang mungkin
bisa memergoki kita. Aku hanya ingin memekku diisi kontol bos-ku yang
keras itu. Sambil menunggu kontolnya menyusup ke memekku, aku memainkan
klitorisku dengan jari2ku, sambil membuka lebar lubang kenikmatanku.
Aku
mendengar resletingnya dibuka dan tak lama kemudian, kontol raksasanya
Pete masuk dengan satu sentakan ke dalam memekku yang super-licin.
”Ooohhhh
god!” gumamku, namun bos-ku hanya mengeram sambil mengeluar masukkan
kontolnya dengan kasar sekali. Terasa panjangnya… setiap urat-urat yang
ada di kontolnya. Seakan membuat memekku semakin lebar. Tidak lama
kemudian kontolnya menegang keras dan berdenyut-denyut. ”Keluarin di
dalam, Pete… fill me up with your cum, baby!” aku meracau tidak jelas.
Terasa semburan demi semburan memenuhi rahimku, mengalir keluar dan
meleleh ke pahaku. Bos-ku langsung mencabut kontolnya. Terdengar bunyi
’plop’. Si bajingan itu langsung menutup resleting celananya dan keluar
dari mobilku, meninggalkanku dengan memek penuh dengan spermanya dalam
posisi menungging seperti pelacur. Aku melihat bagaimana ia sempoyongan
masuk ke dalam rumahnya.
Aku mengumpat. Tapi apa boleh buat?
Tidak lama kemudian, aku menurunkan rok-ku dan memacu mobilku ke arah
rumahku sendiri. Sepanjang jalan sperma bos-ku terus mengalir keluar
dari lubang vaginaku. Di setiap lampu merah aku masukkan jariku ke dalam
liang memekku dan kubersihkan sisa2 spermanya dari jariku dengan
menghisap2 jariku sampai bersih. Aku membayangkan sedang menyepong
kontolnya si Pete yang gede itu.
Tom, suamiku membukakan pintu rumah. Rupanya dia sudah tertidur.
”Wow! What happened to you? You’re a mess! Are you okay, baby?” sepertinya ia sedikit khawatir melihat penampilanku.
”Nggak
apa2 kok, baby! Aku cuma abis dipake sama bos-ku,” jawabku nakal sambil
berjalan ke kamar tidur kami sambil mengayunkan pinggul, ”I’ll tell you
all about it, while you fuck my ass ’til I cum… You wanna do that?”
No comments:
Post a Comment