Dua weekend yang lalu aku diajak oleh Tom, suamiku, pergi clubbing
bersama teman2 bule-nya. Kita mulai dari jam 9 di Dragonfly, minum2 wne
dengan sopan, terus pindah ke Vertigo setelah jam 11. Aku senang juga
pindah ke sana, apalagi setelah tahu bahwa temanku Citra, bakal ada
disana juga. Dimana ada si Citra, disitu pula ada ecstasy! Aku bukan
junkie tulen, tapi kadang2 aku suka juga nelen pil gila tsb.
Sama juga seperti friday night itu! I really wanted to go crazy, dan ada E, udah pasti gila!
Kita
berangkat bersama tiga orang temennya Tom: Shane, Robert, atau Rob dan
Aldi, orang Indo. Shane dan Robert berbadan besar selyaknya bule dan
masih single. Well, shane sebenarnya punya girlfriend, tapi ia tinggal
di Bangkok (paling juga local prostitute disana lah, pikirku selalu).
Sedangkan Aldi seperti cowok indonesia rata2. Udah married. Mukanya
cukup keren namun badannya tegap tapi biasa aja.
Sampai di Vertigo,
aku langsung meninggalkan cowok2 itu untuk mencari si Citra. Ternyata
dia udah asiknya goyang2 sendiri dipojokan bersama laki2 yang tidak
kukenal. Aku diberinya sebutir E olehnya yg langsung kutelan diam2, dan
aku langsung pamit untuk kembali ke Tom dkk. Belum terasa apa2 aku terus
dancing2 sensual di depan cowok2 bule tadi. Aku tahu mereka
memperhatikan badanku yg terbalut tube-dress putih yg menyala karena
UV-light di Vertigo. Terutama Aldi sepertinya cukup horny memperhatikan
liuk-liukan tubuhku. Ia terus menerus memandangiku dengan tatapan yang
tajam. Walaupun aku tidak tertarik secara fisik dengannya, aku sengaja
mau teasing dia dengan berciuman dengan Tom yg bernafsu sambil menatap
matanya dalam2. Ia hanya menatapku dengan dingin.
Tak lama
kemudian inex di badanku mulai ‘on’! Aku sudah tidak peduli apa2 dan
naik ke meja kita. Aku goyang tanpa malu. Shane juga naik ke atas meja
dan kita bikin pertunjukan hebat selama (aku kira2) 1 jam lebih.
Aku
keringatan tak karuan dan tubuhku benar2 cape. Efek E juga sudah mulai
buyar. Aku terduduk di sofa dan memejamkan mata sebentar. Karena efek
obat gila-ku aku dapt melihat pola2 yg aneh di kegelapan mataku. Saat
aku dengan lemas membuka mataku kembali, aku melihat di kejauhan Shane
sudah hook-up dengan cewek di bar, Robert entah dimana. Dan Tom juga
sedang tertawa2 dengan cewek yang baru ditemui-nya. Aldi ada di
sebelahku, duduk di sofa corner yg cukup redup. Aku menghadap ke arahnya
dan bengong melihat jendolan kontolnya di jeans-nya. Ia mengusap
pipiku.
Aku tidak bisa berhenti melihat ke selangkangan Aldi.
Sepertinya kontolnya udah keras sekali. Tanpa sepatah katapun ia menarik
badanku ke dekatnya. Dibuka kakiku dengan kasarnya. Aku terkejut
sekali. Jari2nya yang kasar menyusup ke balik dress-ku. Terus, terus
naik menyusup dari samping panties-ku ke liang memekku. Dengan kasar
jempolnya dimasukkan ke dalam memekku dan telunjuknya mengorek2 lubang
pantatku. Ia tersenyum dingin.
Aku melirik ke arah Tom. Ia sedang tidak melihat ke arahku.
“Please
stop, nanti ada yg lihat!” pintaku. Aldi mencabut jari dan jempolnya
dan memasukkan keduanya ke dalam mulutku. Entah kenapa aku mengulum
jari2nya. Ia tertawa merendahkan. Seakan2 aku seorang perek yg senang
kalau dibayar hanya Rp.5000,-.
Tidak banyak yang kuingat dari
malam itu. Paginya aku terbangun disebelah Tom, yg sepertinya
mengentotku waktuku sedang tidur lelap. Aku langsung bangun dan mandi.
Kepalaku masih terasa berat sekali waktu ada bunyi sms di hp-ku.
Aku
baca, dan cukup kaget juga: “Datang ke apartemenku besok malam!,”
tertulis alamat di bilangan kuningan. “Jangan lupa pakai baju yang sexy.
-Aldi-”
No comments:
Post a Comment